Friday, February 1, 2019

MAGANG DI MALL


Reyhan Ismail, Magang, Mall Nipah Makassar

KKN versi anak teknik di kampus saya itu ada tiga pilihan, pertama KKN Reguler. Ini KKN versi yang sering kita liat. Di mana mahasiswanya disebar ke kampung-kampung terpencil untuk melakukan kegiatan pengabdian masyarakat.

Kedua, ada KKN PPMD. Saya lupa kepanjangannya apa. Hampir sama dengan KKN Reguler. Bedanya, daerah yang ditempati adalah daerah atau desa yang di bina oleh Universitas.

Terakhir, itu tadi yang saya maksud ; KKN Profesi. Kalo bahasa awamnya, magang. Magangnya di perusahaan-perusahaan atau biro arsitektur. Bisa perusahaan konsultan, bisa perusahaan kontraktor, yang jelas bukan di perusahaan jual beli followers.

____

Hari itu di lobi jurusan, duduk Sari dan Ari. Saya kebetulan lewat. Mereka bicara soal magang KKN di Mall Nipah yang letaknya lima langkah dari kampus. Kalo langkahnya sampe ngangkang merobek selangkangan memang bisa sampe lima langkah.

Mall Nipah adalah pembangunan Mall ke-8 di kota Makassar (kalo tidak salah). Salah satu mall yang dibangun oleh perusahaan properti milik wakil presiden kita, bapak Jusuf  Kalla. Konsultan perencananya dari Urbane, milik bapak Ridwan Kamil. Proyeknya lumayan besar. Setidaknya kalo dibeliin kuota. Kuotanya gak bakalan habis-habis sampe 17 turunan. Sebuah keberuntungan tingkat Mahabharata kalo bisa lolos magang di sana. Soalnya, beberapa teman saya sempat mengajukan surat permintaan magang tapi ditolak dengan alasan : “Maaf, mas. Kamu  jele”

Hehe. Cnd.

Singkat cerita. Saya, Ari dan Sari barengan satu kelompok. Mereka berdua ini perempuan berjiwa laki-laki.

Biar akrab, izinkan saya perkenalkan satu persatu :


Diwakili sama kucingnya.
Nama : Ari ke-8 (dari seluruh teman saya yg namanya Ari)
Hobby : Main Mobile Lejen (posisi : noob)
Cita-cita : Ingin cepat-cepat selesai magang.


Foto not found (alias susah nyari fotonya)
Nama : Sari
Hobby : Nebeng
Cita-cita : Dengar-dengar, terakhir dia pengen jadi adiknya Lisa Blackpink dan punya majikan seperti Bille Eilish

Beberapa hari berlalu. Kabar baiknya, kami di izinkan untuk magang di proyek tersebut. Kabar buruknya, di hari pertama magang, kami bertemu dengan orang yang membuat jiwa kami sedikit getir, jantung terpompa lebih sering dari biasanya dan gendang telinga yang bergetar lebih keras lebih sering dari biasanya.

Orang itu setiap hari kami panggil Pak Soleh. Orang yang membuat saya semakin yakin “Ternyata pemeran antagonis seperti ini memang ada di dunia nyata. Kirain cuman di film-film”.

Jadi waktu hari pertama magang. Saya terlambat masuk kantor. Ya, sebuah awal yang baik untuk memulai magang. Kontrak kerjanya hari Senin-Jumat, mulai jam 08.00-17.00. Tapi saya datang jam 13.00 karena paginya ada final di kampus. Ari dan Sari sudah ada di sana bahkan sebelum jam delapan pagi. Chatnya sudah bertubi-tubi. Katanya orang kantor nyariin. Habis dhuhur saya langsung ke sana naik motor.

Motor masuk gerbang, saya tunjukin kartu anak magang ke security (iya, harus pake tanda pengenal). Berhubung ini kali pertama saya ke tempat proyek, saya tidak tau di mana posisi kantor tempat saya magang di proyek itu. Kata security “Terus saja, diujung belok kanan, terus naik ke lantai dua”. Saya mengikuti instruksi dengan khusyu, akhirnya saya sampai lantai dua, motor saya sampai di tempat parkir. Di sana saya bingung. 

INI KEMANA LAGI!?

Didepan sudah banyak motor dan mobil. Berhubung saya melihat ada (keliatannya) pegawai naik motor yang juga baru mau masuk, saya juga ngikutin. Dia masuk ke sebuah ruangan yang dipisah oleh semacam partisi.

Saya parkir motor. Ikut masuk ke dalam. Di dalam ruangan ada beberapa orang yang sedang kerja pake laptop. Tapi tidak ada Ari dan Sari. Ternyata…

Salah…

Masuk…

Kantor…

Untungnya ada pekerja yang baik hati mengantar saya ke kantor tempat magang. Didepan pintunya juga ada security yang jaga. Habis di interogasi saya buka baju pintu. 

Ruangannya 3x lipat lebih luas dari kantor yang salah tadi. Di sini lebih banyak orang. Banyak meja. Banyak cubicle. Di sebelah kiri ada meja panjang buat rapat. Di sana saya melihat Sari sama Ari. Duduknya tegap sekali. Lehernya tidak bergerak-gerak menatap laptop. Kayak lagi nyamar jadi batu. Saya duduk disebelah Ari yang tidak pake sepatu. Kemarin dia habis dapat ucapan selamat datang dari proyek seperti tulisan saya di sini. Kakinya luka, jatuh terseok-seok dari turunan ramp mobil.

“Serius sekali…”

“Heh, main duduk-duduk saja. Menghadap ke Kak Tika dulu sana” suaranya membisik.

“Hah ? Kak Tika siapa ?”

“Di sana, kakak yang pake jilbab ungu” tangannya sambil nunjuk

Saya langsung berdiri kesana. Menyapa, memperkenalkan diri terus jabat tangan. Kak Tika terus nyuruh saya sebentar menghadap ke yang namanya Pak Soleh. Project Manager di kantor ini. Dia menunjuk ruangan Pak Soleh disebelahnya. Ruangan itu saya ingat persis. Pintunya pintu kaca dengan stiker yang menempel bertuliskan “AWAS TEGANGAN TINGGI”. Saya berpikir, “Oh, mungkin ruangannya ada gardu listrik.”

Sambil nungguin Pak Soleh datang, saya duduk dengan santai di samping Ari dan Sari yang daritadi sibuk dengan laptop.

Tidak lama Pak Soleh datang. Badannya besar tapi tidak terlalu tinggi, pake kacamata. Saya menatap dia lama-lama. Sedangkan Ari dan Sari tiba-tiba ngetik-ngetik keyboard, langsung menyibukkan diri. Tiba-tiba orang yang disebut Pak Soleh itu langsung teriak :

“APA KAU LIHAT-LIHAT B*NGS*T !”

Anjir. Ngegas.

Kaget, saya langsung mengalihkan pandangan. Volume suaranya tinggi sekali. Dia mendekat ke tempat kami. Dalam hati saya. Mampus!

‘WOI’ Dia nendang kursi Ari “MANA GAMBARNYA SUDAH JADI BELUM?”

Kami langsung jadi pusat perhatian para pegawai di ruangan itu.

“Sudah pak” Sari ketawa masam. Muka Ari pucat.

Saya cuman bisa terduduk diam.Ini tidak seperti Pak Soleh yang ada dalam pikiran saya. Kirain Solehnya seperti Soleh di Upin-Ipin. Dia melihat gambar perspektif manual yang sudah dikerjakan Ari dan Sari.

“GAMBAR MACAM APA NI. KAU SEBUT NI GAMBAR PERSPEKTIF, HAH?”

Kami sama-sama cuman diam.

“KETAWA LAGI. LAMA-LAMA SAYA TEMPELENG JUGA KAU” Intonasi dan cara bicaranya khas orang Melayu. Belakangan saya baru tahu kalau Pak Soleh ternyata orang Singapura. Dengan kata-kata kasar seperti itu kami bertiga otomatis kaget. Sedang karyawan yang lain malah tertawa. DUNIA MACAM APA INI.

Setelah puas memaki-maki gambar Ari dan Sari. Dia mengajarkan cara menggambar persepektif yang benar. Setelah itu. Dia kembali menasihati dengan marah-marah. Di sudut lain, salah satu pegawainya yang cengengesan daritadi, juga turut dapat bagian. Telinganya di jepit pake penjepit kertas sama Pak Soleh. Sepertinya memang pembawaan Pak Soleh memang begitu. Saya perhatiin semua orang cuman ketawa. Mungkin cuman kami bertiga yang nunduk,pantang buat ikut ketawa.

Hal seperti itu terjadi hampir setiap hari. Baru dua tiga hari magang saya jadi pengen berhenti. SAYA TIDAK KUAT. TOLONG.

Sebagai satu-satunya laki-laki yang ada dikelompok, saya harus tetap tegar walaupun hati ini ketakutan. Saya harus bisa memberi semangat kepada Ari dan Sari bahwa kita bisa menyelesaikan apa yang sudah kita mulai. Walaupun tiap hari, kalo mau dihitung, yang paling sering kena semprot itu cuman Ari. Kenapa hal itu bisa terjadi ? Karena Pak Soleh kenal dengan kakak Ari yang  bekerja di perusahaan yang sama dengan Pak Soleh. Makanya kalo Ari kena marah, saya cuman bisa menghindar secepat mungkin, minta izin ke WC dan berkata dalam hati ;

“Selamat…selamat. Jiwa saya selamat” sambil mengelus-elus dada. 

Apa yang membuat Pak Soleh keliatan ganas adalah karena dia tidak pernah keliatan tersenyum. Suaranya tinggi sekali. Kadang karyawan di sana juga sering dapat semprot dan tidak jarang disiksa secara mental dan fisik. Tapi, anehnya mereka santai saja. Malah ketawa. Entahlah, mungkin karena sudah terbiasa atau memang karna jiwa mereka semua sudah mati.

Di pertengahan magang. Pak Soleh tidak masuk kantor beberapa hari karna ada tugas bersama beberapa karyawan lain ke Turki. Di saat yang bersamaan anak magang baru datang. Namanya Nurul, dari kampus sebelah. Manusia paling garing yang pernah saya kenal. Ada satu waktu saya pernah jalan bareng dia, kami pun ngobrol :

“Eh, Nurul. Kamu tau Pak Soleh tidak?”

“Mm. Nda. Memang dia siapa?”

“Dia Manager disini loh. Lagi ke Turki. Katanya sih besok sudah masuk kantor. Orangnya suka marah-marah, Siap saja besok kena semprot, haha”

“Duh, iya, iya. Kata Ari sama Sari juga begitu. Ku jadi takut”

“….”

“Duh, nanti kalo dia datang marah-marah aku nanti nyanyi  ‘apa salah dan dosaku sayang, cinta suciku kau buang-buang’ ehehe”

“….”

“Ehehe”

“….”

“Ehehe”

Saya cuman bisa diam. Dalam hati saya :

INI ANAK NGOMONG APA SIH!?

Tidak cuman sampai situ. Nurul juga sempat diberi julukan Penakor (Perebut Nasi Orang) oleh kami bertiga. Karna dengan hadirnya anak magang baru seperti Nurul, otomatis kuota catering makan siang buat anak magang yang cuman tiga. Terpaksa salah satunya harus dikorbankan buat Nurul. Setiap waktu makan siang, saya, Ari dan Sari pasti harap-harap cemas. ‘Duh, kebagian nasi gak ya…’ Saya tidak pernah berhenti melirik kotak nasi yang ada dalam bungkusan. Untung-untung kalo ada karyawan yang gak makan. Nasinya bisa dikasih Nurul. Kalo pas, ini kami antara enak dan tidak enak. Lapar tapi tetep gak rela kalo salah satu dari kami harus memilih makan diluar. Lebih-lebih lagi, Nurul kalo diajak makan, selalu jawab :

“Iya, kalian makan duluan saja”

MAKAN DULUAN BAGAIMANA?. INI NASI MEMANG CUMAN TIGA YA ALLAH!

Selain Nurul. Ari dan Sari juga tidak kalah ngeselin. Oiya, mereka berdua ini duduk berdekatan, sedangkan Nurul terasingkan di meja yang berbeda.

Ari dan Sari ini seperti Jokowi dan Ma’ruf Amin. Kalo Ari memutuskan sesuatu, pasti Sari ikut-ikutan setuju. Kalo Ari bilang “Saya goblok”, pasti Sari bilang “Betul, saya setuju pendapat sodari Ari”. Saya sebagai anak magang laki-laki satu-satunya ditempat itu dijadikan seperti rakyat jelata. Tiap waktu makan siang saya selalu disuruh-suruh :

“Rey, ambilin pisang ya”

Abis makan pisang.

“Rey, ini kulitnya buang ya”

GILA. DIA YANG MAKAN PISANG, SAYA YANG DISURUH BUANG.

Tiap jam kerja, mereka berdua ini sibuk sendiri membahas hal yang saya tidak tau. Pas saya masuk di obrolan mereka. Mereka cuman bilang : “Eh, kutil YoungLex nda usah ikut-ikutan ngobrol obrolan cewek. Kerja sana”

Ku ingin marah…

Melampiaskan….

Keasyikan Ari dan Sari tidak sampai situ. Setiap orang-orang mengawas dilapangan dan kantor sepi, diam-diam mereka berdua asyik main Mobile Lejen. Dasar Kits Jaman Naw.

Diantara kami berempat memang cuman Nurul yang selalu konsisten bekerja tanpa mengenal kata istirahat dan makan siang hingga awal sampai akhir.

Sedangkan kerjaan kami bertiga, juga tetap konsisten.

Konsisten mempermalukan nama almamater. BWAHAHA.

____

Hari terakhir magang biasanya menjadi momentum perpisahan yang harusnya mengharukan. Di mana kami bertiga seharusnya pamit berjabat tangan saling memaafkan lalu berpisah. Tapi sialnya, di momen-momen terakhir seperti itu saya malah menghilang. Soalnya saya disuruh buat mengantar barang ke kantor pusat bersama salah satu tukang dengan mobil pick up.

I hate my life...
Saya baru selesai mengantar barang ketika semua karyawan sudah pulang. Saya tidak sempat mengucap kata pisah kepada orang-orang kantor yang selama ini sudah saya kenal baik. Seperti Kak Ari panutan saya dalam hal ketampanan, Kak Asrul yang sudah resmi mengubah nama saya menjadi Agus, Kak Karim yang ikhlas membimbing kami selama magang, Kak Andin atas ilmu dan tugas-tugasnya yang tak pernah habis, Kak Pute atas perhatiannya untuk mengingatkan kami makan siang, Kak Riri yang baik hati, Kak Tika yang sangat ramah dan masih banyak lagi.

Dan satu momen berharga yang saya lewati adalah saya tidak sempat melihat senyuman pak Soleh untuk pertama kali. Iya, orang seperti Pak Soleh akhirnya tersenyum terharu. 


Itu setelah saya, Ari dan Sari berinisiatif untuk memberikan kue cheese cake hasil jerih payah kami bertiga. Lebih tepatnya hasil patungan kami buat beli bahan, selebihnya nyuruh tantenya Sari buat bikin.


Magang di mall ini adalah magang terakhir sekaligus masa di mana KKN sudah selesai kami jalani. Saya benar-benar merasakan bagaimana rasanya menjadi pekerja proyek. Bekerja tiap hari mulai pagi jam 8 sampai jam 5 sore rutin dari Senin sampai Jum'at selama dua bulan. 


Ini sekaligus menjadi bekal dan pengalaman berharga buat saya. Terutama pelajaran disiplin yang sudah diberikan Pak Soleh kepada kami. Mental kami benar-benar diuji. Bentakan demi bentakan, kata-kata kasar yang dikeluarkan, perlahan membuat kami sedikit lebih terbiasa dengan sikap seperti itu. Pada dasarnya Pak Soleh orangnya sangat baik. Terkadang sikap seperti itu memang dibutuhkan demi kedisiplinan tim apalagi di dalam sebuah lapangan proyek. Dan sekarang, saya mulai paham, kenapa karyawan di sana malah tertawa ketika Pak Soleh marah-marah. Mereka bisa mengerti mana yang bercanda dan mana yang serius.


Sebelah kiri Ari, Sebelah kanan Sari. Yang foto Jefri Nichol.

35 comments:

  1. Paling tidak dapat pengalaman berharaga sekali ya. Anyway, ternyata KKN profesi itu masih ada. Kukira sudah dihapuskan pas tahun 2010 atau 2011? Pokoknya dulu pernah ada masa di mana anak teknil itu hanya boleh ikutan KKN Reguler 😂

    ReplyDelete
    Replies
    1. Oiya? Sya jga baru tau itu. Klo skarang sih masih ada. Kurang tau klo dlu smpat tidak ada.

      Delete
  2. Padahal saya tunggu ceritanya nurul ketemu sama Pak Soleh, ndak kena marahji kodong?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kena marah juga hahaha. Tpi nda terlalu sering.

      Delete
  3. Semoga tidak akan ketemukan dengan orang seperti Pak Saleh, de sangarnya di.

    Ka kalau saya nadapat pastinya selalu kukasi kue cheese, ka ternyata bisaji senyum kalau disogok dengan kue, hahaha

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sekarang sudah mulai terbiasa sih kak. Ada dmpak positifnya juga ktemu sama dia. Jadi lebih trbiasa dengan tekanan.

      Delete
  4. Mungkin belum terbiasa ya Kak. Orang project yang seperti ini lumayan banyak populasinya. Tapi sabar saja kadang mulutnya cerewet tapi hatinya baik.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iyaa. Kdang sikap juga dipengaruhi oleh tuntutan pekerjaan. Kalo dilapangan harus tegas, kalo dirumah saya yakin pasti tidak bgitu. Hehe

      Delete
  5. Mungkin belum akrab saja ya kak dengan Pak Saleh. Padahal dari namanya saja sudah bisa jadi panutan loh kak. Pengalaman bertemu dg ragam katakter itu guru berharga kaka heheee

    ReplyDelete
    Replies
    1. Mungkin krna tmpatnya yg slah kak. Klo dikantornya, dia memang suka bgitu ke smua orang, tidak peduli akrab atau tidak. Posisinya mmng menuntut dia harus tegas dan profesional di lapangan.

      Delete
  6. Pak Soleh senyum-senyum pas saya kasi liat tulisan ini. Itu belum seberapa katanya, kalian saja yang gimana gituh. .

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hahaha. Jngan bgitu dong kak. Auto ganti nama klo dia btulan baca. wkwkwk

      Delete
  7. Saya tiba-tiba jadi ingat pengalaman kerja di proyek.

    Bertahun-tahun jadi anak proyek sampai akhirnya baru sadar, ini bukan passion saya hahaha.

    Hal menyenangkan dari kerja proyek itu adalah hari sabtu. Biasanya malam minggunya kita habiskan di klub malam karena mandor/kontraktor baru habis dapat uang.

    HahahaHa

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wduuwww. Keradd. Sungguh godaan yg sangat mnanatang nafsu birahi. Untungnya sya blum pernah dpat kontraktor yg bgitu.

      Delete
  8. Sari dan Ari sudah baca ini? Mereka harus baca, biar tahu teman macam apa yang menceritakan mereka di blognya hihihi.

    Btw selamat melangkah ke tahap berikut sebagai mahasiswa ya Rey.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sari sdah baca kak. Nd tau kalo Ari, hahaha.

      Aamiin. Siap, mkasih kak niar 😁

      Delete
  9. Sangat seru pengalaman magangnya, apalagi magangnya di Mall, ditmbh lagi dengan kehadiran Pak Soleh tentunya.

    ReplyDelete
  10. bwahahaha, tulisannya menghibur. Serasa baca novel. Sekalipun dibalik tulisan ini pasti ada derai air mata (baca=perjuangan), ada banyak yang mau saya bilang, karena saking banyaknya saya tidak tau harus bilang apa, satu katawa mewakili AMAZING. Selama BW saya dpt bacaan serius, jarang2 ad bacaan personal life yang seperti ini. Eh saking sukanya dgn tulisannya sy chat sja di wa (uppss). Dtggu cerita2 lainnya.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hahahaha. Tidak sampai air mata kok. Cman smpai derai air keringat saja.

      Wduww, makasih Ainhy :3
      Iya, kmarin sdah sya baca wa nya kok. Kirain dari temen yg mau ngajakin bisnis MLM. Baru kali ini loh saya di wa cman gara2 tulisan di blog hahaha.

      Siap. Mkasih ya Ainhy 😄

      Delete
  11. Keterlaluannya itu Pak Soleh dii? Udah numpang kerja di negara orang, pake marah-marah lagi!

    Kalo kata temanku, "tale-talekang itu Pak Soleh. Malas ka bati-batii"hahahah

    ReplyDelete
    Replies
    1. Klo keterlaluan sih ngga. Itu cman kita anggap tantangan di lapangan kerja. Krna pasti ada2 saja karakter orang yg harus dihadapi klo sdah dilapangkan. Lebih ke pembiasaan diri saja sih kak :')

      Delete
  12. Mantap ceritanya om.. Dari diksi dan narasi tulisan ini, kita punya nulis novel om. .Dari bebrapa paragrahh yang menceritakan ganasnya Pak Soleh. .Saya tunggu-tunggu apa areng katanya ke kita ketika lambat masuk..ternyata selamat yah. .Alahamdulillah. .Hehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hahaha. IYA! Saya lupa kasi penjelasan bagian itunya. Tpi wktu itu sih dia nda masalah wktu sya telat. Nd tau dia lupa atau bgaimana. 😂

      Delete
  13. pengalaman magang yg sangat seru akn menjadi cerita berharga yg mengajarkan banyak hal yg bermanfaat banyak untuk memantapkan langkah ke masa depan.. sukses selalu kak 😊

    ReplyDelete
  14. Baca blog ini jadi rindu pengalaman masa PKL atau magang. Banyak suka dukanya jadi pengalaman mengasikkan sepanjang kuliah dulu...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iyaa. Rata2 yg baca tulisan begini knapa rindu smua ya.

      Delete
  15. Replies
    1. Cewe may. Nama lengkapnya Ariani, bukan Arianto. 😂

      Delete
  16. Pihak kantornya kenapa enggak ngasih jatah lebih ketika muncul Nurul? Mestinya ditambah juga. Hadeh.

    Itu Pak Soleh emang watak aslinya begitu atau buat nakut-nakutin anak magang, sih? Kok kayaknya cuma bikinan. Hahaha.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Maunya sih ditambah Yog, cman krna kdang beberapa karyawan kantor makan diluar mkanya jatahnya dikasih ke anak magang.

      Seriuss emng gitu dia orngnya Yog. Ke smua karyawan. klo diluar waktu kerja sih sya gatau.

      Delete
  17. Dramak banget ya kaka cerita magangnya. Yang terpenting bisa ambil pengalaman dari setiap orang disana termasuk pak Soleh :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iyaa. Itu dia pelajaran berharganya. Pelatihan mental. Wkwkwk

      Delete
  18. Gokilj juga nih pak Soleh. Coba cari tahu deh. Jangan-jangan nama panjangnya Pak Soleh Pati.

    Btw, gue padahal nungguin bagian si Nurul kena omel, eh tapi gak ada. :))

    ReplyDelete

Singgah ki' :)