Wednesday, September 26, 2018

TERUNTUK SAHABAT YANG DITINGGAL NIKAH



Alkisah, ada seorang sahabat yang datang ke saya lalu bercerita tentang pengalaman pahit yang baru saja menimpanya. Sebut saja namanya Nain. Beberapa bulan yang lalu, pacarnya (kita sebut saja namanya Tina) memberi kabar bahwa seseorang telah datang melamar dirinya. 

Sialnya, orangtua Tina menerima lamaran tersebut. Alasannya karena faktor kedekatan orangtua dan kemapanan sang calon suami. Dan faktor kedua adalah; adat. Keluarga Tina berasal dari desa. Orangtuanya percaya bahwa tidak baik menolak lamaran seseorang. Jika sampai ditolak, maka tetangga akan memandang rendah mereka. Menganggap anaknya banyak mau, pemilih dan tidak tau bersyukur.


Ya, kadang-kadang saya juga benci adat yang terlalu kaku.

Nain dan Tina sudah pacaran selama 6 tahun. 6 tahun itu bukan waktu yang singkat. Kalo kita punya anak, 6 tahun itu bisa dipakai untuk meluluskannya SD. Kalo kuliah, 6 tahun bisa membuat anak itu di Drop Out.

Mereka mulai saling kenal sejak SMP. Dan pacaran mulai semenjak SMA kelas dua. Waktu itu kalo tidak salah tahun 2013/2014. Saya masih ingat betul saat masa pendekatan mereka. Saya dan beberapa teman yang lain mendampingi Nain naik motor yang jauhnya berkilo-kilo meter hanya untuk menemui Tina di sekolahnya. Seperti kebanyakan orang pacaran, mereka menghabiskan waktu untuk saling berkomunikasi mesra lewat telepon, sms-an, chattingan dan pernah sepakat untuk sama-sama menabung demi mempersiapkan pembangunan rumah mereka jika sudah menikah.

Memasuki masa kuliah, hubungan mereka makin dekat. Nain beberapa kali harus pulang balik mengantar dan menjemput Tina dari kampus. Dan seperti kebanyakan orang pacaran, Nain terkadang datang bertamu ke pondok Tina. Di persiapkanlah minuman pelepas dahaga dan biskuit sebagai teman untuk mengobrol. Saya tau, karena saya juga pernah diajak oleh Nain untuk datang bertamu ke sana. Ya, benar sekali. Lagi-lagi sebagai obat nyamuk.

Saya ingat betul, berapa kali mereka putus nyambung. Bahkan, saat memasuki bulan puasa, mereka sengaja putus. Alasannya untuk menjaga iman, hawa dan nafsu di bulan ramadhan. Seperti kebanyakan orang pacaran, mereka juga pernah bertengkar. Lebih tepatnya Tina yang memancing Nain untuk bertengkar. Setelah memancing-mancing amarah Nain, Nain memutuskan untuk putus. Tidak lama setelah itu Tina akan nangis berderai air mata untuk minta maaf atas ketidak stabilan emosinya dan meminta untuk balikan kembali.

Semua kenangan selama 6 tahun itu, semua usaha untuk merajut masa depan itu, dan semua mimpi-mimpi indah yang sudah direncanakan dengan baik itu ternyata harus sirna dan pupus begitu saja hanya karena kehadiran orang ketiga.

Orang yang melamar Tina adalah orang yang sudah mapan secara finansial, sedangkan Nain adalah seseorang yang sementara memperjuangkan mimpi untuk masa depan nya dengan Tina.

Orang yang melamar Tina, orangtuanya lebih dekat dengan orangtua Tina. Sedangkan Nain, jangankan orangtuanya, dia ternyata jarang melakukan pendekatan dengan orang tua Tina. Jadi tidak ada alasan bagi Nain untuk mengajukan banding kepada orang tua Tina. Apa yang bisa ia bawa?

Satu hal yang membingungkan Nain adalah bagaimana bisa dia meyakinkan, bahwa dia akan melamar Tina, jika kondisi finansialnya belum mapan? Bagaimana bisa dia meyakinkan orangtuanya sendiri bahwa Tina adalah wanita terbaik yang bisa menemani masa depannya?

Nain secara modal masih belum siap. Yang dia bisa hanya berjanji dan meminta untuk menunggu. Dia sudah merawat hubungan itu dengan amat sangat baik. Tapi begitulah, lagi-lagi pepatah netizen terbukti. 

"Pada akhirnya, yang ngajak pacaran akan kalah dengan yang ngajak ke pelaminan"

Mendengar keputusan tersebut, untuk pertama kalinya semenjak mengenal Nain, dia bilang ke saya bahwa dia akhirnya menangis. Setelah hari itu, dia mulai berniat untuk melupakan Tina.

Sedangkan TIna? dia ternyata tidak bisa melupakan Nain. Nain bilang ;

"Sudah berapa kali Tina menelpon saya terus, tapi tidak pernah sya angkat. Dia sudah punya tunangan dan saya tidak boleh dekat-dekat sama dia lagi"

Tentu ini menyakitkan. Mereka sama-sama tidak bisa merelakan hubungan itu begitu saja. Tapi Tina tetap memaksa.

Satu hal yang bisa saya pelajari dari Nain semenjak pertemuan itu adalah kedewasaanya. Pada akhirnya dia mengangkat telepon dari TIna. Menemui TIna jika dia perlu sesuatu. Tetap mengantar dan menjemput Tina jika dia butuh. Dan tetap menjadi teman yang baik untuk saling berbagi cerita. Bahkan Nain berkata, teman-teman TIna sampai heran, kenapa mereka masih sering dekat.

Kenyataanya Nain tidak ingin tiba-tiba hilang dan lari dari tanggung jawab untuk pergi tanpa menyembuhkan hati Tina. Dan dia melakukan itu secara perlahan. Walaupun hatinya masih belum sembuh, dia tetap meluangkan waktu menghibur Tina. Mengingatkan Tina untuk sama-sama merelakan hubungan mereka, karena bagaimanapun meraka tetap tidak bisa memaksakan keadaan. Karena siapapun yang melamar Tina, Nain menganggap mungkin itu yang terbaik untuknya.

Sampai saat ini, Nain masih terus berkomunikasi dengan Tina. Saat saya bertanya ;

"Jadi, habis putus, apa langkah selanjutnya?"

Nain hanya menjawab singkat

"Tidak mau pacaran lagi" dia meneguk air yang dia ambil dari dispenser saya itu.

"Saya mau fokus belajar, cari kerja. Supaya bisa mempersiapkan masa depan dan meyakinkan orang tua seseorang"




5 comments:

  1. Hmmm pedih nih ceritanya:(
    Kayanya orangtua Tina juga gatau ya kalo anaknya pacaran sama Nain selama 6 taun.
    Tapi salut sih dengan ketegaran dan kedewasaan sikap Nain. Hebat. Masih mau anter jemput dan nolongin Tina kapanpun.

    Sehat dan bahagia selalu ya, Nain!

    ReplyDelete
  2. Harusnya diperjuangkan. apapun caranya, dekati orang tuanya, buat mereka yakin. siapa tau kan kalo uaha dulu.. sayang banget loh, 6 tahun pacaran.

    Dan saya yakin sih ini bukan pengalaman Rey, Rey kan main tinder terus. gak! gak mungkin ini Rey!

    ReplyDelete
  3. Ini cerita beneran?

    Beneran ada yg kayak gini ya. Sebenernya ini lah mngkin salah satu hal yg bikin gue sendiri males buat menjalin hubungan sama orang lain. Malah pengennya gue jadi tokoh yg langsung datang melamar si tina ke orangtuanya. Hahaha

    Malah jdi curhat

    Tapi buat Nain, jangan bersedih brader. Kita nyanyi bareng aja.

    ReplyDelete
  4. Zaman udah bergeser, tapi kenapa hal-hal yang kolot begitu masih ditakuti? :)

    Hm, menikah sebetulnya pilihan si anak kan, lalu kenapa orang tua banyak ikut campur? Dia yang nanti menjalaninya. Bukan si orang tua. Toh, itu si anak akan menjadi keluarga baru juga. Apa mau terus berada di bawah bayang-bayang orang tua? Sayangnya, ya pernikahan juga bagian dari menikahi keluarganya. Orang tua enggak akan tega kalau nanti anaknya hidup susah. Makanya mesti benar-benar menilai calon menantunya itu. Apalagi hubungan sama mertua juga kudu tetap terjalin meskipun udah pisah dari rumah. Terus, kalau keduanya nanti sudah punya anak dan sama-sama bekerja, jika enggak sanggup bayar atau kurang percaya sama baby sitter, pasti minta tolong mertua atau orang tuanya buat menjaga anaknya tersebut. Hmm.

    Segitu patahnya kah si Nain sampai enggan pacaran lagi? Kayaknya saya pernah patah hati dan ngomong gitu juga, tapi ujungnya bakal pacaran lagi. Selama proses fokus buat cari duit, nanti pasti ketemu cewek baru. Kalau waktunya udah siap, hati luluh dengan sendirinya. Lalu patah lagi, sembuh lagi. Siklus itu terus berulang.

    ReplyDelete

Singgah ki' :)