Friday, August 10, 2018

JADI KAPAN SELESAI ?




Reyhan Ismail, Wisuda, Sarjana, Skripsi, Universitas Muslim Indonesia, Arsitektur
Kalo saya sudah jadi raja Wakanda..

Setiap Ibu menelpon. Pasti pertanyaan itu selalu terselip di tengah-tengah atau diakhir pembicaraan. Pertanyaannya adalah :

“Jadi kamu kapan selesai?”

Kadang-kadang baru dua hari yang lalu dia nelpon buat bertanya hal itu, hari ini dia juga menanyakan hal yang sama. Dipikiran saya, mana ada sih orang yang mau lama-lama selesai? Jujur, saya juga sudah mulai bosan kuliah. Satu-satunya tujuan untuk datang ke kampus itu cuman satu. Yaitu : BUAT SELESAI KULIAH.

Semangat kuliah di awal-awal itu tidak seprti dulu. Kalo dulu, awal-awal semester kita
kekampus, tujuannya macam-macam. Kalo ikut oraganisasi, ya tujuannya untuk rapat, ada kegiatan program kerja, kerja proposal, surat dll. Kalo masih ada kuliah tatap muka, buat belajar, kumpul tugas, asistensi, dll.

Sekarang, setiap saya ke kampus, dipikiran saya cuman satu.

BUAT CEPET WISUDA. Just it.

Saya paling benci kalo sudah jawab pertanyaan “Jadi kapan kamu selesainya?” saya jawab dengan jujur. Bla, bla, bla. Terus tiba-tiba ada tambahan pertanyaan lagi, “Iya, kira-kira berapa bulan lagi? Berapa hari? Berapa detik lagi?”

Udah gila.

Kalo bisa besok, saya mau wisuda besok bu. Kita ini mau wisuda. MAU. BANGET. Ya, cuman dosennya saja yang suka memperlambat dan memperumit keadaan. Sudah seharusnya pertanyaan “Jadi kamu kapan selesainya?” ditujukan buat dosen. Jadi para orangtua kalo mau tahu anaknya kapan selesai, harusnya tanya langsung ke dosen yang bersangkutan.

Pertanyaan “Jadi kamu kapan selesainya?” sudah seharusnya diganti menjadi “Anak saya kapan selesainya pak?”

Tolonglah untuk orangtua-orangtua diluar sana yang masih sering nanyain “Jadi kamu kapan selesainya?”. Plis, kurangi bertanya seperti itu. Sesekali bisa saja untuk mengingatkan. Tapi kalo keseringan kan juga gak enak. Tiap bangun pagi ditelpon ditanyain, tiap habis makan siang ditanyain, tiap mau tidur ditanyain. INI BIAR 1000 JUTA KALI DITANYAIN KALO MEMANG WAKTUNYA BELUM SELESAI-SELESAI, YA TETEP GA BISA.

Sorry, ngegas.

Seringkali saya sendiri malas mengangkat telpon dari Ibu karena tahu, pasti bakalan ditanya itu lagi, itu lagi. Walaupun jawaban saya masih tetap sama. Dia tidak peduli. Dia tidak pernah peduli. Bahkan sampai obrolannya sudah tidak nyambung sekalipun.
Ponsel bunyi. Diangkat.

“Halo, assalamualaikum bu”
*Basa-basi*
“Jadi, bagaimana urusanmu? Judul mu sudah diterima?”
“Urusan apa bu?
“Skripsi”
“Ini kan lagi libur semester bu T_T”

Untung kalo ada modusnya dulu. Kayak awal-awalnya Nanyain ini, itu dulu. Nah, kalo to the point? Ponsel bunyi, Tittt, tittt, tittt. Diangkat.

“Jadi kamu kapan wisuda?”
“Ini kalo judulnya keterima”
“Oiya, kalo begitu”

Ttuuutt. Dimatiin.

Tolong, sekali saja tahan keinginan buat menanyakan “Jadi kamu kapan selesainya?”. Kayak tidak ada pembahasan lain saja. Karna kami butuh bukan itu. Pertanyaan itu seperti teror, yang setiap saat bisa mengubah mood kami. Kami butuh kata-kata penyemangat. Sesederhana, “Kamu di sana sehat-sehat kan? Bapak sama Ibu di sini juga sehat” atau “Beras mu masih ada kan? Uang mu masih cukup?” hanya itu. Kami sama sekali tidak punya niat untuk sengaja buat lama-lama selesai.

Saya selalu percaya, tidak ada yang sia-sia dari waktu yang kita habiskan. Sesuatu yang rusak, biasanya terjadi karna sesuatu itu tidak dipedulikan. Kita cenderung tidak fokus ke sesuatu itu. Karena ada sesuatu yang lain. Sama seperti orang yang pacaran. Kalo pacar kamu jarang menghubungi kamu, di sana pasti ada fokus yang lain. Bisa fokus ke pekerjaan, ke hobi, ke pelakor, dll. Nah, saya percaya, setiap ada wisuda yang berkepanjangan. Di sana pasti ada fokus lain yang lebih kuat. Bisa saja, mahasiswa wisudanya lama, lebih unggul di bidang enterpreneur. Bisa saja dia lebih unggul di bidang organisasi. Bisa saja dia lebih unggul di bidang olahraga.

Tidak ada yang sia-sia.

Yang kami butuhkan atau yang saya butuhkan hanya trust. Kalo orang tua tidak percaya dengan apa yang saya impikan lantas siapa yang harus saya percaya ?
Setiap orangtua pasti butuh kepastian kapan anaknya selesai. Tapi, percayalah Bapak, Ibu.

Di sini, pagi, siang, malam dan subuh, anakmu sementara berjuang. Kami butuh do’a dan kepercayaan. Tolong, ikhlaskan itu untuk anakmu.



9 comments:

  1. Rey sekarang sehat-sehat, kan? Jadi kapan kamu selesainya? WKWKWKWKWKWKWK

    ReplyDelete
    Replies
    1. orang lagi serius malah dibecandian. gimana sih?


      hmmm..


      jadi kapan selesai?

      Delete
    2. Dih orang lagi sriuss, pusing kayak gitu masih aja dibejandain. Gimana sih?
      Kasih semangat dong

      Rey, utang jangan lupa bayar
      Tagihan listrik juga bayar y, udah 2 bulan loh
      Jadi kapan nikah sama lulusnya

      Delete
  2. Manggut-manggut gue sepanjang baca tulisan ini. Banyak poin yang "lah iya ya, ada benernya juga" hahaha.

    Mari berdoa supaya dosen yang bersangkutan bisa segera meluluskan Reyhan. Aamiin.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Oiya, gip. Kamu masih skolah apa sudah kuliah?

      Aamiin Gip. Aamiin. Makasih doanya. Ini ga lagi becanda kan?

      Delete
    2. Gue di tahap pusing nyari duit buat nikah. Serius. Tau gini mending pas sekolah banyakin main kurangin belajar. Jadi kurang main gue sekarang. Huhu

      Itu serius. Yok sukses yok!

      Delete
  3. Smangaat rey, ujian mu akan segera selesai 😎

    ReplyDelete

Singgah ki' :)