Saturday, March 10, 2018

IBU MAAF, SAYA TIDAK BISA WISUDA TAHUN INI



Reyhan Ismail, Kolokium, Universitas Muslim Indonesia, Arsitektur


Hari itu saya sangat ingat, hari Rabu 4 Oktober 2017. Hari dimana-Kita sebut saja namanya- Pak Bambang menerima judul “calon” tugas akhir saya dengan perasaan yang penuh dengan apresiasi.

“Nah, ini! Coba kau liat temanmu ini” Dia nunjuk-nunjuk judul saya dengan rasa bangga.

“Apa tadi judulmu itu?”

“Pembangunan Techno Park berbasis Teknologi dan Informasi di Makassar Pak!” Saya menyebut judul saya dengan penuh rasa bangga, sambil nunduk malu-malu dilatin teman-teman.

Sebelum Pak Bambang membanggakan saya seperti diatas, saya sempat menjelaskan beberapa alasan, berbagai data dan masalah yang saya dapatkan seperti “Merujuk pada prioritas pembangunan pemerintah bla, bla, bla”, “Di butir ke 6 Nawacita Presiden, bla, bla, bla”, “Judul saya ini mendukung program daerah smart city, bla,bla,bla” sampai ke “Judul ini saya dapatkan dari buku yang bapak berikan pak, jadi sederhana saja, tidak perlu jauh-jauh” Alasan yang intinya jika saya jadi pekerja MLM, mungkin hari itu saya sudah bisa dapat 6 pendaftar.



Begitu saja percakapan singkat dimana judul “calon” tugas akhir saya diterima dengan penuh penyambutan oleh Pak Bambang. Setelah itu, seperti manusia pada umumnya. Saya memamerkan keberhasilan tersebut kepada teman-teman yang masih pusing mencari judul.

Tentunya sebagai manusia pusing pada umumnya, mereka bertanya-tanya kepada saya, tips yang ampuh, supaya judul bisa diterima. Dan sebagai manusia cerdas pada umumnya, saya menjawabnya dengan asal-asalan. Skenario ini sengaja saya bikin untuk mengganjal perjuangan mereka. Begitulah dunia kampus, kawan.

Dua minggu berlalu. Waktu yang tersisa saya pakai untuk melengkapkan data yang saya butuhkan untuk memperkuat judul, TECHNO PARK BERBASIS TEKNOLOGI DAN INFORMASI DI MAKASSAR. Kurang keren apalagi?

Hari yang ditunggu pun telah tiba. Hari terakhir dimana judul yang sudah distor diperiksa kembali satu persatu untuk diperiksa datanya valid atau tidak oleh Ibu Nadia. Hari itu Pak Bambang datang terlambat.

Pemeriksaan nya memakan waktu 4 jam!. Kebanyakan judul teman-teman yang lain tidak diterima, walaupun sudah setengah mati menjelaskan. Ada judul yang minggu lalu diterima oleh Pak Bambang, tapi nyatanya tidak diterima oleh Ibu Nadia. Disitu perasaan saya mulai gk enak.

Makalah judul saya kebetulan berada dibagian bawah (sesuai urutan absen). Sementara Ibu Nadia me-review satu persatu judul teman-teman yang lain, saya sibuk mengingat data dan melatih gaya bicara didalam otak.

Tak berapa lama datanglah Pak Bambang.

“Maaf terlambat” sambil melangkah memasuki ruangan kelas.

“Oiya, pak. Nda papa” Kata Ibu Nadia (padahal daritadi nungguin) “Oiya, ini sebagian judul saya kasih ke bapak saja ya, biar bapak yang seleksi mana yang bisa diterima. Soalnya saya sudah capek daritadi”

“Oke, Tidak ada masalah” Detik itu juga tumpukan beberapa judul (termasuk judul saya) yang belum sempat direview oleh Ibu Nadia diserahkan kepada Pak Bambang. Saya mulai agak lega.

Dengan cepat Pak Bambang mulai mengambil satu persatu makalah judul. Judul pertama dia liatin sampulnya, 3, 4, 5, 6 detik terus dia bilang “Sport Center di Makassar…”

Ruangan jadi hening.

“Ini judulnya sudah ada ini”

FYI, salah satu syarat judul diterima adalah judul itu belum pernah diambil oleh mahasiswa sebelumnya dengan jarak sampai 5 tahun. Contohnya, judul Pembangunan Warteg bertaraf Internasional. Jika judul itu sudah diambil oleh angkatan 2010 maka angkatan 2011 sampai 2015 tidak boleh mengambil judul serupa. Begitulah nasib “Sport Center di Makassar” yang kata Pak Bambang sudah ada/ sudah ada yang ambil.

Semua judul satu persatu dilihat sampulnya lalu dijawab dan ditolak dengan alasan yang serupa “JUDULNYA SUDAH ADA”. Disitu perasaan saya tenang-tenang saja. Toh, minggu lalu Pak Bambang sudah menerima judul yang saya tawarkan dengan sangat antusias. 

Ibaratnya, judul yang saya tawarkan itu adalah sebuah inovasi dalam dunia per-arsitekturan yang bahkan angkatan satu masehi sampai sekarang belum ada yang ambil.

Perlahan namun pasti, Pak Bambang lalu memegang makalah judul saya. Ia mengangkatnya persis didepan mukanya sehingga saya tidak bisa melihat ekspresi bahagianya melihat judul saya.

“Techno Park Berbasis Teknologi Informasi di Makassar…..” 

"....." Hening.

“Techno Park ini juga sudah ada…….”

DEG!



Waktu itu saya cuman ketawa dua bahak “HE. HE” Pak Bambang pasti bercanda. 

Selesai menyeleksi makalah judul, dia sama sekali tidak bilang ke saya kalo lagi bercanda. Gila.

Waktu itu rasanya mau mati saja, tapi tidak tau Pak Bambang serius atau bercanda. Jadi matinya ditunda dulu.

Setelah selesai, saya meminta penjelasan kepada Pak Bambang tentang maksud dari semua ini. Menjelaskan semuanya, termasuk tentang hari itu saya tidak sedang berulang tahun. Tapi jawabannya tetap sama!. F**K!



ADA APA INI!? PADAHAL MINGGU LALU DITERIMA!!!

MINGGUU LALU DITERIMAI!!???

APAKAH HARI INI PAK BAMBANG LAGI PMS? TAPI COWOK GAK BISA PMS YA ALLAH!!!

***

Seminggu berlalu. Saya masih tetap tidak bisa melepas kepergian mata kuliah Kolokium ini. Sebagian teman-teman sudah pasrah menerima nilai E karna judulnya ditolak.

Nyatanya saya belum.

Satu hari saya kembali menjelaskan kepada Pak Bambang dengan membawa bukti bahwa judul yang saya ambil belum pernah diambil! Itu dibuktikan dari buku pendaftaran judul administrasi angkatan sebelumnya. Tapi jawabannya tetap sama.

Pada akhirnya, tanpa sengaja saya menemukan sebuah judul tugas akhir yang ternyata serupa dengan judul saya. Dan anehnya judul itu tidak terdaftar secara administratif di jurusan yang menjadi acuan mahasiswa untuk menghindari judul yang sama!



Apa yang dikatakan pak Bambang memang benar. Judul saya sudah ada yang pernah ambil. Tapi apa artinya beberapa minggu yang lalu dia menerima judul saya tanpa mempermasalahkan sudah ada atau tidak? Kenapa hari itu (hari terakhir) dia baru bilang kalo judul saya sudah ada?

Serius. Sampe sekarang saya masih berpikir kalo Pak Bambang lagi bercanda. Kejadian ini 100% kayak lagi kena Jebakan Batmannya Uya Kya. Pada satu sisi saya harus merelakannya, disisi yang satu saya tidak mau menerimanya begitu saja. Ini kedzaliman.

Lebih baik judul saya ditolak karna sekelumit masalah penulisan, data, dan masalah ilmiah daripada ditolak karna kelabilan seorang dosen.

Sumpah, ini tidak sehat bagi dunia penulisan karya ilmiah di Indonesia! Dimana kuantitas dan proses dalam melahirkan sebuah judul seharusnya lebih kritis dalam melihat permasalahan.

Kejadian seperti diatas benar-benar sangat merusak mental dan semangat mahasiswa. Depresi dan stress tidak terhindarkan lagi. Judul ditolak itu berarti wisuda ditunda sampai tahun depan dan SPP sebagai pemangkas gaji orangtua masih harus tak tergantikan. Apalagi kalo kuliahnya di PTS yang SPP nya selangit. Ibarat, sapi perah. Semakin lama tinggal, semakin produktif menghasilkan susu. Kalo gk bisa bayar, DO. Sarjana tinggal menjadi angan. Nongkrong sambil ngopi dan makan bakwan pun jadi pelarian.

Bicara soal pendidikan di Indonesia bawaannya emosi mulu ya. Hehe.

Pada akhirnya sampailah saya pada titik dimana wisuda harus ditunda satu tahun. Apa yang bisa saya lakukan cuman bisa menulis ketimpangan yang sebenarnya sering terulang di tiap angkatan ini. Besar harapan saya agar cacat pendidikan seperti ini tidak terulang kembali pada adik-adik kita. Mari kita memperbaiki sistem pendidikan mulai dari sumbernya.

Sudah. Mungkin itu saja untuk tulisan kali ini. Sampai jumpa disemester berikutnya. Eh, maksudnya tulisan selanjutnya. Hehe.


21 comments:

  1. Skenario ini sengaja saya bikin untuk mengganjal perjuangan mereka
    Wah jahat sekali Anda ini Om
    Itu tuh akibatnya
    Mending judulnya
    Teganya dosenku menjebak aku dengan judul yang sama padahal Minggu lalu dia bilang ok

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ya, begitulah nik. Persaingan di teknik emang gitu. Kmarin aja ada yang matanya hampir dicolok cotton bud gara2 dia copy gambar temen tanpa minta izin.

      Kayaknya itu lebih cocok buat jadi judul sinetron deh Nik.

      Delete
  2. Sabar ya Rey, kita senasib kok :')

    ReplyDelete
  3. Berhenti kuliah aja, mending join ke bisnis MLM. Pasti udah dapat mobil dan bisa jalan-jalan ke luar negeri.

    ReplyDelete
  4. Apakah anda mahasiswa arsitekur umi

    ReplyDelete
  5. Respect buat pak bambang dan ibu nadia yang labil

    Lol

    ReplyDelete
    Replies
    1. Biasanya orang klo komentar begini. Judulnya juga tidak diterima

      Mengheningkan cipta...dimulai

      Delete
  6. Selamat sampai di tujuan sodara

    ReplyDelete
  7. Kita tidak salah jurusan kawan-kawan.. Sepertinya kita cuma salah masuk kampus.. :v

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sepertinya kita butuh resign kampus kanda.

      Delete
  8. Inkonsistensi yang membuat hidup ini gak terarah. Gedek juga sih. Untung gak dibakar atau ditusuk kaya yg udah udah.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Yap, bener sep. Sebagai seorang pengajar, seharusnya mereka yg lbih aktif mncari kesalahan brdasarkan knyataan yg ada. Bukan brdasarkan praduga yang akhirnya tidak konsisten.

      Delete
  9. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete
  10. sepertinya kita senasib di kolokium wkwk:(

    ReplyDelete

Singgah ki' :)