Sabtu, 17 Juni 2017

BERBUKA DENGAN SEPIRING HATI



Reyhan Ismail, Davincioners
Sumber : Google
Persaingan buka puasa antar masjid di kecamatan saya akhir2 ini sangat sengit. 

Ada yang buka dengan takjil + nasi padang. Ada yang buka pake takjil + buah-buahan dan ada masjid yang menyediakan buka pake tiga minuman sekaligus (susu, es buah,  dan air) plus berbagai macam takjil, ini kalo diperut, jadi es campur.

Semakin bertambahnya tahun, semakin berkualitas pula hidangan-hidangan buka puasa yang ada di masjid kecamatan saya ini. Besok-besok tidak menutup kemungkinan ada yang buka pake Steak + Anggur. 

Jangan salah. Masjid-masjid seluruh dunia bisa jadi lima tahun kedepan disinyalir membutuhkan jasa seorang traveller masjid. Pekerjaan ini bisa menjadi pekerjaan potensial yang akan menghasilkan pundi-pundi dollar. Tidak percaya?

Suatu saat. Beginilah salah satu email yang (kelak) akan saya terima.


"Assalamualaikum, saya ngeliat tulisan review masjid antum keren-keren, ana sebagai pengurus masjid jadi berminat pake jasa antum"
"Terima kasih sudah mau bekerja sama. Sebelum saya kesana, boleh tau pelayanan masjidnya apa-apa saja?"
"Allhamdulillah masjid ana kemarin baru saja naik akreditasi A. Pelayanan yang jadi kebanggan kami salah satunya, masjid delivery"
"Wah, lumayan menarik ya. Kalo begitu saya langsung kesana saja"
"Oiya, antum mau ana jemput pake helikopter apa onta?"
"...."

Saya juga pernah mengalami masa-masa suram soal berbuka puasa dimasjid. Karna tidak selamanya berbuka puasa di masjid itu enak. Awal ceritanya bermula dari gagasan seseorang yang punya nafsu makan yang tinggi, kayak habis sahur pake Curcuma Plus.

"Eh, buka puasa nanti kita makan apa ini?" sambil main PS 3, teman saya Fahri langsung teringat buka puasa.


Reyhan Ismail, Fahri Pratama Putra, Davincioners
Sumber : Facebook Fahri
"Nanti beli indomie saja, nasi disana masih lumayan banyak" Saya menjawab sesuai ingatan isi rice cooker dua hari yang lalu.
"Oo, oke, oke"

Beberapa jam kemudian, sekitar pukul 16.50, Tris teman saya yang lain, membuka rice cooker. Dengan muka pucat, dia bilang  "Rey, habis nasi mu..."

Saya langsung menelan ludah. Fahri juga mau menelan ludah, tapi karna kehabisan cairan, dia jadi tidak punya ludah untuk ditelan.

"Kalo begitu kita buka puasa di masjid saja" seperti biasa, saya memberikan saran yang sangat brilian.
"Bah, kalo saya sembarang kanda" Fahri juga seperti biasa, setuju-setuju saja.
"Kita buka dimasjid mana ini?" Tris mencoba menginvestigasi. Tidak seperti biasa.

Waktu itu, saya juga sudah mulai bosan buka puasa di masjid dekat rumah. Tiba-tiba saya langsung berpikiran berbuka puasa di Masjid Raya, salah satu masjid terbesar di Makassar. "Pasti makanannya 4 sehat 5 sempurna" pikir saya dalam hati. Sungguh kaum dhuafa yang matre.

"Coba-coba deh, kita buka puasa di Masjdi Raya?" seperti biasa, saya memberikan saran yang sangat brilian.
"Bah, iyaa, saya sembarang" Fahri juga seperti biasa, setuju-setuju saja.
"Jalan ke Masjid Raya, jalan kesana kau hafal tidak?" Dengan kritis, Tris bertanya lagi.
"Tidak sih..." Kata saya
"Nanti kita lihat saja di google maps" Kali ini Fahri memberikan ide yang briliant.

Sampai sekitar pukul 17.15 kita masih main PS.

"Eh, sudah jam setengah 6, ayo kita kesana, nanti terlalu banyak orang" Saya mengingatkan. Kami berangkat ke Masjid Raya Makassar setelah terlebih dahulu melihat Google maps.

Dijalan. Suara radio masjid yang sedang mengaji sudah mulai terdengar dimana-mana, pertanda beberapa menit lagi sudah mulai buka. Saya sebagai leader penunjuk jalan meningkatkan kecepatan motor. Dibelakang Tris dan Fahri yang berboncengan menyusul dengan setengah mati. Kadang tertinggal, kadang menghilang, dan kadang tersangkut dihadang oleh seonggok angkot.

Ditengah perjalanan, mereka tiba-tiba menyusul disamping motor saya dan bilang "Rey, tidak usah terlalu cepat bawa motor" Fahri sebagai penyetir, protes (baca: hampir terlindas angkot)

Dengan penuh simpati saya bilang "Oo, oke, oke. Sorry" 

Saya sadar, 10 menit lagi sepertinya sudah buka puasa. Kayaknya kita harus meningkatkan kecepatan lagi. Tanpa memikirkan nyawa mereka, saya menambah kecepatan dengan beringas. Lebih penting satu perut terisi daripada dua nyawa menghilang. Pikiran saya sudah mulai dikuasai oleh nafsu setan.

Beberapa menit kemudian, saya akhirnya sampai di Masjid Raya. Saya memarkir motor di pelataran masjid. Sejenak saya berbalik. Fahri dan Tris belum datang. Sepertinya mereka saat ini sudah ada di siaran Breaking news. 

"Pemirsa, di Makassar, menjelang berbuka puasa, telah terjadi kecelakaan antara sepeda motor dan mobil angkot. Diduga pengendara sepeda motor ini kelaparan lalu ngebut2 ngotot berbuka puasa di Masjid Raya dan mengira mobil angkot didepannya adalah Es Pisang Ijo."

Tanpa menunggu, saya mulai menaiki tangga kayak Pegasus Seiya yang berhasil mengalahkan banyak musuh dan melaju ke Athena.

"Rey! Tunggu!" Motor Fahri dan Tris mulai memasuki area parkir Masjid Raya Makassar. Ternyata mereka berdua selamat dengan susah payah pemirsa. Bisa dilihat dari rambut Fahri yang menjuntai kemana-mana dan mata Tris yang berkaca-kaca kena angin.

Di menara masjid, sudah terdengar ucapan selamat berbuka puasa dari entah siapa. Yang pasti bukan dari saya.

Segera kami bersama-sama bergegas menaiki tangga dengan tenaga yang tersisa. Setelah hampir sampai ditangga terakhir. "PRRIIIITTTT, PRITTTTTT!" kami mendengar suara peluit. 

"WOII MAS! UANG PARKIRNYA BAYAR DULU!" Lalu turun lagi buat bayar parkir.

Setelah bayar uang parkir, kami ngesot naik tangga, kehabisan tenaga. Beberapa detik Tris mulai merayap menaiki tangga, sedangkan saya sudah digendong oleh Fahri.


Perjuangan menuju buka puasa.
Sampai dipuncak, kami memasuki ruang shalat masjid yang biasa dipakai untuk berbuka puasa. Tapi melihat itu semua, tubuh kami malah jadi lemas tak berdaya, mulut kering, kaki bergetaran dan titit tak bernyawa.

"Ya, Allah. Semua orang-orang kemana ini!?" saya melihat tidak ada sama sekali orang-orang. Sepi.
"Waduh. Kayaknya kita kacele..." Fahri dengan nafas tersengal-sengal menyesali.
"Sudah, kita buka puasa diluar saja" Tris mulai menyandarkan diri ditembok, pasrah. Matanya berkaca-kaca.


Reyhan Ismail, Tris Mauliadi
Kurang lebih, ekspresi Tris seperti ini. Sumber
Beberapa menit setelah meratapi kesedihan, kami melangkah keluar masjid dengan kepala tertunduk. 

Dipintu masjid, kami melihat anak-anak dan bapaknya masuk masjid, lalu belok kanan, setelah itu dia lewat tangga buat turun ke lantai dasar. Disitu kami melihat secercah harapan. Senyum kami mulai menyeruak. Kami mengikuti mereka.

Dilantai dasar. Kami melihat banyak manusia-manusia (iyalah manusia, masa onta), duduk menunggu buka puasa. Kami mulai terharu. Akhirnya, setelah perjuangan yang penuh penderitaan dan hampir memakan nyawa, here wa are...

Setelah mengamati ruangan itu. Kami menyadari bahwa; tempatnya sudah full. Tidak. Kami berharap ini bukan cobaan lagi. Mulai khawatir, saya berinisiatif bertanya kepada bapak yang kayak pengurus masjid. 

"Pak, kalo mau ambil makanan buka puasa dimana ya?"
"Oh, adek belum dapat ya? silahkan ambil sama ibu yang disana" dia menunjuk ibu-ibu yang kelihatannya memang bertugas membagi2kan takjil.

Akhirnya...

Sampai didepan ibu-ibu pembagi takjil, dengan semangat yang membara dan nafsu makan yang tinggi, saya lebih dulu mulai meminta "Bu...Saya belum dapat makanan buka puasa bu..." muka saya waktu itu kayak tidak pernah makan dua tahun" 

"Oh, sudah habis dek..." GLEK!
"Kenapa datang terlambat. Ini yang ada tinggal air putih" sambil memberikan tiga gelas air putih.  ((((AIR PUTIH))))

Kami sempat termenung beberapa detik melihat segelas air minum itu ditangan kami masing-masing.  seakan tidak percaya kalo yang kami dapat cuma segelas air putih Ades BA*GSAT ini. Waktu seakan berhenti berjalan.

Kami tidak juga meninggalkan tempat itu,

Memasuki 15 detik. Kami cuma termenung. 20  detik, kami tatap-tatapan. Fahri menghembuskan nafas. Tris masih memandang air putihnya. Kami masih belum bisa bergerak dari depan Ibu-ibu pembagi takjil itu. Mungkin karna shock.

Si Ibu-ibu daritadi ternyata memandang kami. Ia lalu bertanya ke Ibu-ibu pembagi takjil disampingnya "Marni, kau masih punya es buah disitu atau apakah? ini ada anak masih ada yang belum dapat ini" saya mulai sedikit tersenyum, berharap.

"Sudah habis bu, ini sisa air putih yang masih ada satu dos" Muka saya tambah pucat.

Saya melihat air putih ditangan saya lagi 
"Jadi benar, buka hari ini cuman air putih?" untuk pertama kalinya dalam berbuka puasa, saya pengen nangis.

Tris masih memandang air putihnya, sedangkan Fahri belum mau beranjak sampai dia dapat apapun yang lebih dari air putih.

Si Ibu-ibu mukanya mulai memperlihatkan raut muka kasihan, melihat tiga orang anak tuna takjil dari tadi masih belum bisa menerima kenyataan bahwa menu buka puasa mereka hari ini hanya segelas AIR PUTIH.

Didalam ruangan ini, suara do'a berbuka puasa mulai terdengar dari radio masjid. Semua orang mulai memanjatkan do'a buka puasa dengan makanan masing-masing yang disiapkan didepan mereka. Sedangkan kami? masih belum bisa menerima kenyataan.

"Hmm,..." Ibu itu tiba-tiba memasukkan tangannya dibawah meja lalu mengeluarkan sesuatu "Ini saja kau ambil" kemudian mengeluarkan tiga gelas plastik es buah. 

Kami menyambutnya dengan suka cita. "Untung saja, saya masih simpan beberapa, coba kalo tidak" Ibu itu menambahkan.

"Iya, bu, terima kasih" Kata saya, terharu.
Tris dan Fahri berpelukan, setelah itu kami pun sujud syukur.

Pas waktu buka telah tiba. Kami duduk halaqah dibawah tangga masjid. Mensyukuri apa yang ada dan menyesali apa yang tidak ada.

Habis makan, kami langsung pulang lekas menunaikan shalat maghrib.

Sementara shalat, saya tidak bisa khusyuk. Saya malah berpikiran "coba tadi kalo kita tidak termenung beberapa menit dan langsung menerima kenyataan. Pasti ibu-ibu itu dengan tega membiarkan kami berbuka dengan segelas air putih"

Jadi, jangan pernah sekali-kali meremehkan kekuatan TERMENUNG!
Karna termenung memberikan kita kesempatan untuk membuka kesempatan!

Sudah keren belum?



13 komentar:

  1. Jadi bukanya sama gelas plastik es buah, Rey

    Padahal enak sama air putih loh, air putih itu sehat
    Daripada sama gelas plastik coba

    Di rumah saya banyak nih gelas plastik
    Mw?
    .
    Dari cerita diatas dapat kita simpulkan
    Sebaiknya kita pergi ke masjid dengan niat ibadah, insyaallah berkah
    Coba kalo niat ibadah dengerin ceramah atau ngaji pasti datangnya duluan, terus kebagian takjil
    Tapi engga apa2
    Disitulah berkahnya puasa, niat buka dimasjid saja masih dapat takjil walau penuh lika liku untuk mendapatkannya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Izinkan saya komen komenan ini:
      "Tumben bang niki yg paragraf trakhir komennya bner....." :'D

      Hapus
    2. Ya, cuman di paragrag terakhir kok Lu. Paragraf pertamanya masih menunjukkan ciri khasnya Niki sebagai pria yang sangat jenius dan berlogika tinggi.

      Hapus
    3. Bdw, Lulu merhatiin Niki juga ya.

      Hapus
  2. Hahaha... deh itumi paling nyakko' kalau buka dengan air gelas didapat. Tapi untunglah ibu punya simpan takjil, mungkin tommi itu untuk anaknya dirumah.
    Mumpung masih puasa ayo pi buka puasa sama-sama deh, kebetulan lagi survive ka masjid-masjid yang ada nastak dan nasbungnya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Apalagi sampai mempertaruhkan hidup dan mati dijalanan demi itu. Kalo sudah kelaparan kayaknya sudah tidak dipikir itu untuk anaknya atau neneknya. YANG PENTING ADA YANG MASUK PERUT. BWAHAHA.

      Wah, saya baru baca komen ini. Dan sekarang sudah lebaran.
      Tapi ayo deh.

      Hapus
  3. Alhamdulillah nggak jadi air doang. Padahal masih bersyukur dapet air, Rey. Daripada buka pakai air wudu? XD

    Btw, pasang muka ngenes gimana, sih? Gue susah buat pasang tampang melas. Dan sumpah, gue ngelihat foto Tris juga bakalan kasihan kayaknya. Huhu. :(

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kalo buka pake air wudu, nggak harus nunggu ampe maghrib yog. Dhuhur sama ashar juga bisa. Diminum secara sengaja gak disengajain.

      Ekspresi ngenes itu akan muncul secara alamiah ketika tubuh tidak diberi asupan nutrisi yang baik saat buka yog. Makanya klo mau eksperesi kyak Tris. Gak usah makan aja seminggu.

      Hapus
  4. HAHAHAHAHAHAHAHA. BANYAK DIKSI-DIKSI BAJINGAK DI POSTINGAN INI. Tapi yang paling bangke sih kekuatan termenung. Huahahahaha. Ternyata termenung ada gunanya ya selain untuk mengotori pikiran.

    Oh iya. Yang traveler masjid itu juga bikin ngakak. Terus aku ngakak sambil deg-degan ngebaca bagian kalian menuju masjid, Rey. Ternyata begitu potret kehidupan Mr gRey kalau lagi nggak ada kesibukan di dunia bisnkis. Mr gRey menghabiskan waktu bersama para sahabat sambil dikuasai nafsu setan.

    Huahahahaha. Baca ini bikin aku ngerasa lebih baik, Rey. Dan aku ngerasa kita ada kemiripan nasib. Ini aku lagi di pinggir jalan, kejebak banjir. Motorku mati. Hujan deras. Terus setengah jam sebelumnya aku jatoh dari motor karena nggak liat ada lobang gede di depan. Untung ada ibu2 yang peka sama anak lemah dan ceroboh kayak aku yang lagi terkulai di tengah jalan. Suami Ibunya bantuin aku bangun dan berdiriin motorku yang ikut terkulai. Terus aku dikasih air putih sama Ibunya. Buat ntar kalau misalnya belum nyampe rumah juga. Dan ternyata prediksi Ibunya betul!!! Aku nggak sempat nyampe rumah. Dan aku buka puasa pake air putih. :")

    JADI.... HIDUP AIR PUTIH!!!111!!!

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wah, komen2 icha dari awal sampe sekarang masih tetap konsisten ya. Panjang dan penuh dengan antusiasme birahi yang sangat tinggi. Patut diapresiasi.

      ((MENGOTORI PIKIRAN)) saya sih kalo termenung biasanya kesurupan cha'.
      Kalo udah gitu, saya udah kyak orang kesurupan. Bukan orang kesetanan. Dan bukan orang-orangan. Atau bukan juga orang ketindisan. (ini apaan sih, bwahaha)

      BWAHAHA. Gak rugi ya kemarin saya nulis review air putih. Trnyata bnyak orang yang telah terbantu dengan hadirnya segelas air putih ini. Bahkan seorang icha yang habis jatuh dari motor, terselamatkan dari tragedi mati kehausan karna hadirnya air putih.

      Yeah, Hidup air putih!

      Hapus
  5. Penuh lika liku demi menu buka puasa tanpa biaya yaah.. yg sedih itu nasi udah dua hari.. Syukur jg klo ga basi, eh ini malah udh abs.. Jd ikut prihatin. Sini gue masakin nasi dah :') bhahaha

    Akhirnya dgn berbekal tampang melas dan merenung dgn tepat, bsa dpt makanan untuk brbuka puasa. Alhamdulillah.. Smga ibu2 itu dberikan rezeki yg melimpah yaah.. Aamiinn.

    Pdhal sisanya msh ada air putih satu dus. Knp ga lu bawa smua aja? Lumayan tau mnum air putih bsa mngenyangkan :'D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kira2 kalo dimasukin di situs Kitabisa.com dengan judul "Tiga mahasiswa ini kekurangan pangan, ayo bantu mereka sebelum mati kelaparan!" ada yang mau donasiin gak ya?

      Aamiin. Terima kasih atas do'anya ya Lu. Semoga di ijabah. Dan semoga Ibu2 nya bisa naik haji.

      BWAHAHA! CALLBACK YANG SANGAT MENAWAN PEMIRSA! MEMBUAT SAYA SEDIKIT NGAKAK. :D

      Hapus
  6. Wkwkwk. Termenung membawa berkah itu namanya :D

    BalasHapus

Singgah ki' :)