Selasa, 02 Mei 2017

JANGAN TAKUT DITILANG!


Beberapa bulan yang lalu saya sempat berniat untuk kembali konsisten untuk menulis lewat postingan saya satu ini. Sampe sekarang masih sekedar wacana yang tak terealisasikan (pengaruh pilkada Jakarta)

Saking lamanya gk menulis. Saya jadi lupa gmana caranya buat nulis lagi, haha.

Tanpa berlama2 dan tak mengumbar janji buat konsisten menulis lagi, izinkan Raja Salman untuk membuka pidato ini dengan membaca Basmalah.



****

Sumber
Bicara soal ditilang. Banyak yang was-was (itu baru kalo bicara).

Kalo sudah ditilang, kebanyakan ngasih uang pembeli rokok. Uang pembeli rokoknya pun tak masuk akal. Harga sebungkus rokok setau saya yang paling mahal 17 ribu. Terus yang dikasih paling sedikit 50 ribu. Ini buat beli rokok atau buat rental PS?

Kebetulan beberapa waktu yang lalu saya sempat ditilang untuk pertama kalinya selama resmi punya SIM dikota Makassar. Memang saya-nya yang salah karna bepergian naik motor tanpa pake helm.

Waktu itu malamnya saya baru sampe di Makassar, di pagi hari saya siap2 mau kekampus buat bayar SPP. Pas motor dan penampilan sudah oke, helm saya hilang entah kemana. Saya cari-cari dari sudut rumah gk ada. 

Beberapa menit berlalu dalam pencarian putus asa itu, yang saya temukan hanya topi. Waktu yang mendesak memberikan saya hidayah untuk menggantikan helm itu dengan topi yang saya temukan ini.

Akhirnya saya pake topi itu dengan gaya terbalik ala anak hip-hop sambil mengenakan jaket jumper merah lalu tancap gas menuju kampus, berharap pak polisinya tidak bertugas karna habis luluran.

Menuju lampu merah diujung pertigaan (yang biasanya ditongkrongi polisi) mata saya menatap tajam kedepan sambil mengundurkan kecepatan, memerhatikan keadaan sekitar, apakah ada rompi hijau yang bersinar terang disana.

Kebetulan didepan saya juga ada dua pengendara yang tidak pake helm dan itu yang saya jadikan PANUTAN.  Otomatis jika mereka singgah dan berputar dengan sigap, berarti didepan ada polisi. Kalo tidak sempat berputar duluan, mereka yang akan ditilang lebih dulu sebelum saya. Strategi yang tepat bukan?

Sambil merencanakan strategi licik itu. Tiba2 mereka singgah dipinggir jalan sambil melihat kedepan. Saya pun ikut singgah. 

Setelah mereka singgah, mereka turun dari motor dan perlahan melangkah menuju ke

Toko Alat Olahraga....



Sadar rencana awal saya gagal. Saya memutuskan jalan sendiri sambil memerhatikan pertigaan jalan lampu merah itu dengan cermat dan penuh perhitungan.

Tak terasa sayapun sampai tepat didepan zebra cross dan menyatakan 
SITUASI AMAN TERKENDALI. Saya akhirnya bernafas lega.

Tapi tunggu dulu.

SAYA KAN SUDAH MELANGGAR LALU LINTAS, 
KENAPA SAYA MASIH TERTIB NGIKUTIN LAMPU MERAH YA?

Terlanjur tertib. Saya ikuti lampu merahnya sampe lampu hijau. Sebelum lampu hijau,  saya sedikit rapiin penampilan dulu lewat kaca spion. Kebetulan poni dan topi saya sudah agak berantakan dibagian depan. Supaya tidak keliatan, saya menutup topi dengan kupluk jumper. Supaya keliatan keren.

Ditengah kesibukan mempermantap penampilan. Tiba-tiba saya mendengar ada orang yang pamer2 suara knalpot dibelakang saya. Lampu lalu lintas juga saya liat masih merah, berarti kan belum jalan? ataukah mungkin dia adalah si Boy yang bangkit dari kubur?

Beberapa detik kemudian saya berbalik dan……

“MANA HELM KAMU!?”
“Eee.., hilang dirumah pak…”

Ternyata dari tadi pak polisinya sudah ada dibelakang saya. Dia naik motor (BM)

Bukan. Gayanya Pak Polisinya bukan begini.
Sumbe
“AH, MANA STNKNYA!?”
“Ada di tas pak…”

Tanpa saya sadari tangannya sudah sampe ke slot kunci motor dan menarik kunci motor matic saya.

“BAWA MOTOR KAU KESANA!”
“Oiya, siap pak”

Selain ditilang, saya malah disuruh dorong motor sendiri. Sungguh polisi yang tak tau tata tertib penilangan yang baik.

“Bisa saya liat STNK mu?”
“Oiya, tunggu pak.”

Sebagai pengendara yang kemarin tertib lalu lintas, saya menunjukkan STNK, SIM, KTP dan sekalian KARTU MAHASISWA saya ke pak polisi ini.

“Ini pak, STNK, ini KTP, ini SIM, trus ini KARTU MAHASISWA saya pak” 
(sambil nunjukin satu-satu)
“SAYA CUMAN MINTA STNK-NYA DEK”
“Oiya, ini dek. Eh, Pak” Jadi latah ku dibuatnya...

Setelah mengecek STNK tadi, Si Pak polisi mengeluarkan kertas berwarna merah. Saya sering membaca artikel soal kertas2 sakral ini. Antara slip warna merah dan warna biru. 

Tapi berhubung saya lupa yang benar minta slip warna apa, saya perlahan mendekati si pak polisi, mendekapnya dengan mesra, ingin rasanya merangkul pinggang yang lebar itu, lalu berbisik lemah,

DISINI…….. SAYA PUNYA UANG ROKOK PAK……

“Kau tandatangan disini”

Perintah pak polisi membuyarkan lamunan saya soal ide busuk itu. Lagipula saya juga baru sadar kalo uang yang ada dikantong saya cuman Rp. 20.000. Cuman cukup buat bayar parkir ilegal di Makassar selama seminggu.

“Oiya, pak…”
“ Lain kali kamu harus pake helm kalo mau naik motor”
“Helm saya juga hilang pak, terus mendadak ada urusan di kampus, makanya buru-buru”
“Saya tidak mau tau soal itu. Pokoknya kamu harus taati aturan Negara”

Listening to Armada – Asal kau bahagia <unknown>

Saya dikasih surat tilang warna merah, trus disuruh buat datang sidang hari Jum’at minggu depan. Dengan gaya yang sama (topi terbalik dan poni yang menjuntai) saya melanjutkan perjalanan kekampus.

***

Pikiran saya tentang sidang. Sumber
Tak terasa  Sangat terasa hari sidang pun tiba. Saya berangkat ke Pengadilan Negeri Makassar. Bayangan saya tentang kantor pengadilan adalah ketika kita akan diwawancari oleh banyak wartawan. Sebelum itu terjadi, saya sudah memikirkan jawaban2 yang saya pelajari dari Youtube. Percakapannya mungkin seperti ini.

Wartawan : Apa latar belakang bapak sehingga tidak memakai helm ke kampus?
Saya : Latar belakangnya karna keterbatasan ekonomi. 
Wartawan : Jadi, bagaimana kelanjutan dari kasus bapak?
Saya : Yaa, saat ini saya belum mempersiapkan kuasa hukum, uang denda yang saya bawa juga cuman 50 ribu, jadi mohon doanya buat teman2 wartawan, semoga sidang saya berjalan lancar.
Wartawan : Ngomong2 nama bapak siapa ya?
Saya : Panggil saja saya Mawar Raflesia Arnoldi.

Kenyataannya, dari luar kantor pengadilan terlihat sangat sepi. Dibagian luar tergantung spanduk bertuliskan “Hati-hati terhadap calo”.

Bdw, saya sama sekali tidak punya niat pake calo, selain saya menghargai panggilan hukum, uang saya juga tidak cukup.

Pertanyaan pertama saya setelah sampai adalah ; TEMPAT SIDANGNYA DIMANA?

Dibagian depan saya melihat seorang kakek didekat pintu memakai jaket hitam (sepertinya satpam) dan bertanya,

“Pak tempat sidangnya disini dimana ya?”

Mata bapak itu kemudian menelusuri sekujur tubuh saya kayak lagi seleksi Miss Universe.

“Kamu sendiri ya?”
“I..iya pak”
“Terus itu siapa?” Menunjuk mbak2 yang ada diluar tempat parkiran
“Saya tidak tahu pak”
“Oo, bisa saya liat slip tilangnya”

Dengan gagah berani saya nunjukin slip merah hasil jerih payah saya itu. Sejenak dia memandang slip tersebut, terus menyuruh saya untuk mengikutinya.

Ditengah perjalanan, disebuah koridor yang sepi, dia singgah dan berbalik kearah saya.

“Sebenarnya sidangnya sudah tutup tadi pagi mas” berbisik.
“Loh, dislipkan tidak tercantum jam tutupnya sampai jam berapa pak”
“Iya, tapi sekarang sidangnya sudah selesai. Masnya kenapa tidak datang dari tadi pagi?”
“Saya tadi ada kegiatan kampus pak”

Disitu saya mulai berpikir yang tidak-tidak. Bagaimana kalo saya masuk Daftar Pencarian Orang karna tidak ikut sidang? Bagaimana kalo rumah saya disita? Bagaimana kalo dipenjara nanti saya malah diperkosa!?

“Hmm, begini saja, masnya cukup kasih saya uang 250 ribu. Selebihnya nanti saya yang urus”
“Saya cuman punya uang  50 ribu pak” Dengan muka kusut minta dikasihani.
“Kalo 200 ribu ada?”
“Tidak ada pak…”
“Kalo begitu 100 ribu?” Didalam hati saya. Ini bapak sebenarnya mau bantu ngurus tilang atau nawar buat beli cireng?

“Tidak ada pak, cuman ini yang ada”
“Kalo begitu saya gak bisa bantu” Lalu mengembalikan surat tilang tadi, slip tilang itu seakan mengambang perlahan sebelum sandar ditangan saya. Si Kakek lalu beranjak pergi meninggalkanku…..sendiri…..

Saya sempat berpikir jangan2 kakek tadi itu calo. Tak langsung pulang, saya mencari-cari orang yang dapat dipercaya ditempat itu untuk bertanya tempat sidangnya dimana.

Orang pertama, Bapak yang sedang menelpon, tapi karna buru2, saya langsung bertanya ke dia. Tapi saya malah dicuekin.

Orang kedua, Kakek yang mengenakan jaket hitam. Dia sedang duduk merokok. Akhirnya saya gak jadi bertanya. Karna dia adalah kakek yang tadi.

Orang ketiga, Duduk didalam ruangan. Seorang wanita muda berjas. Sepertinya anak magang. Saya langsung bertanya, dan saya akhirnya mendapatkan petunjuk.

Singkat cerita sampailah saya disebuah ruangan kantor (bukan tempat sidang). Disana saya menyetor slip tilang dan menunggu sampai nama saya disebut (tidak sampai 5 menit). 

Setelah itu saya diminta untuk membayar denda sebesar 50 ribu, sesuai yang saya baca di internet. Habis bayar, saya sempat mengadukan kakek-kakek calo tadi. 

Dan jawaban yang saya terima cukup singkat.

“Makanya jangan langsung percaya dengan yang begituan”.


Anyway, saya berharap semoga pengalaman saya ini bisa bermanfaat buat teman2 yang belum pernah ditilang dan ikut sidang sebelumnya. Dan untuk menghindari calo-calo modus kayak kakek2 tadi.

Dan Ingat, per-caloa-an terjadi bukan karena ada niat pelakunya. Tapi juga karena ada uang yang lebih. Waspadalah! Waspadalah! Waspadalah!

PS : Belakangan saya baru tau kalo slip merah itu diberikan kalo kita tidak mengakui kesalahan dan menyetujui untuk ikut sidang. Untuk slip biru, diberikan ketika kita mengakui kesalahan dan memilih membayarnya lewat transfer rekening tanpa menunggu sidang. Jadi pelanggar mempunyai hak untuk memilih slip tilang yang akan diberikan. Makanya banyak artikel yang menyarankan mengambil slip biru yang pengurusannya tidak ribet. :)


27 komentar:

  1. Fix! Keduluan nih. Sebelum tidur tadi aku udah liat dan baca sebagian. Niatnya sih mau komen sebelum Mas Rey balas komen ke blogku. Ternyata mataku udah lelah dan terlelap tidur.

    Sekrang bangun, ehh,udah ada komen dari Mas Rey. Oh ya, jarang keliatan sekarang Mas, selama bulan Maret apalagi, sepertinya sibuk bertapa ya..hehe

    Pengalaman banget ya itu ditilang, padahal udah gaya hip hop segala. Ternyata pak polisinya udah ada dibelakang. haha.. Buat pelajaran juga itu kejadian ya, Mas. Jangan gampang percaya sama modus itu, tua muda sama aja. Tetap waspada..

    Aku sendiri pengalaman di tilang mah udah sering, apalagi zaman disaat negara api menyerang..haha Maksudnya zaman disaat aku belum punya SIM, SMA dulu. Kartu pelajar itu serasa sampah gak laku sama sekali. Malahan langsung di tembak gitu, diminta 100rb lagi. Dulu uang segitu rasanya besar banget. Kejadian seperti itu aku alami sampe 3x. Kamprett kan..

    Save nih, aku suka lupa soalnya. Penting juga mengatahui slip merah dan biru itu...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Makasih ya Andi. Niatnya patut diacungi jempol plus telunjuk dan kelingking. Salam tiga jari.

      Bdw, kali ini komennya mas Andi lumayan panjang ya. Jrang2 loh komen panjang kek gini. Biasanya yg sering komen satu bab disini si Ichastasya. Tpi kyakanya dia bkalan punya saingan disini (teknik propaganda mode : on)

      Iya nih mas. Lagi sibuk fokus dibidang kuliah. Akhir2 ini saya suka bingung soal bidang yg pngen saya dalami. Disatu sisi passion saya menulis, satu sisinya lagi formalitas sebagai mahasiswa arsitektur buat cpet dpat kerjaan. Gk tau endingnya nnti bkalan terjun kemana.

      Itu gayanya si kakek modus kek gitu, supaya dikira polisi, fiuhh.
      Kita memang gk bisa nilai seseorang dari penampilan nya saja (pesan moral)

      Beh, spertinya kebiasaan ini sudah mendarah daging dikalangan masyarakt Indonesia. Milihnya suka yg instan2, gk mau dicari tahu dulu sebab dan akibatnya.

      Yaa, semoga bermanfaat andi :)

      Hapus
  2. Gue juga pernah kayak gitu. SUruh sidang eh malah udah selesai katanya. Emang siang sih datengnya, tapi gak sampe kena calo sih, tapi sepanjang jalan dari parkiran sampe kasir. Gue diajak mulu biar dibantu. Gue tolak lah, wong duit gue sekarat. HAHA

    nanya di kasir lalu batar dan nynggu bentar. Kelar dah! :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Untung gk pake modus gitu ya qi?.
      Ini klo punya uang lebih rifqi psti bkalan tergiur ini. Haha.

      Yap. Simpel dan sederhana. Tapi bukan untuk diulang. Haha

      Hapus
  3. HAHAHAHAHAHAHA REEEEEY!!!!!!!!!!!!!!!!!!! Rindu tulisan Rey. Huahahaha. Ini bikin ketawa kayak biasanya, Rey. Ketawa sambil nutupin mulut pake jilbab. Segala pake atribut anak hip-hop. Yeaaaaah nigga! Bugga! Bugis nigga!

    Paling pertama ngakak pas baca kalimat yang polisi habis luluran. Huahahaha. Nggak kebayang njir. Rey ada-ada aja imajinasinya. Trus yang pas sama kakek-kakek calo itu jugak lucu. AAAAAAK REEEY! Dan ini ngingatin aku sama pengalamanku waktu ditilang. Aku ditilang dua kali, yang pertama itu hampir sidang. Hampir karena Bapakku yang waktu itu nemenin aku terpikat pada calo bajingak. Huhuhuhu. Padahal ku ingin merasakan sensasi duduk di kursi panas pengadilan. Yang kedua itu pake uang rokok, minjem uangnya temenku yang nyamperin ke pos polisi tempat aku diseret. HUhuhuhu. Jadi pengen nulis soal tilang menilang juga dah. Tapi udah ditulis di sini. Huehehe.

    Ilmu yang Rey berikan di akhir postingan sungguh bermanfaat untuk mencerdaskan anak bangsa, btw. YUhuuu.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Tolong jilbabnya diganti ya kalo habis dipake.
      Yeeah nigga! nigga! bugga! (ini bahasa samarinda ya?)

      Sbenarnya klo kasus ditilang, gk sampe duduk di kursi panas persidangn sih cha. Cuman disuruh byar uang denda. Itu aja, trus pulang meratapi uang 50 ribu yg habis begitu saja. Saya juga awalnya smpet mikir kek gitu, tpi realitanya trnyata nggak kayak sidang2 difilm Veer Zaara nya Shah Rukh Khan atau kayak di film Shawsawk Redemption.

      Gak papa, tulis aja cha. Trus bikinin film. Nnti yg review, kamu sndiri. Haha.

      Entah kenapa, akhir2 ini sya sering mndengar dan membaca kata2 "Yuhuuu". Ini tandanya apa ya?

      Hapus
  4. Seumur saya jadi driver kelas kakap, alhamdulillah gak pernah dapet surat tilang tapi ketilang sama pak polisi sering. Sebagian emang kesalahan saya dan sebagian lainnya car-cari kesalahan. Oke tentang uang rokok umumnya sih minta 100rb gitu tapi saya pernah dapet cukup bersihin sampah dijalanan aja. Enak? gak lah sejam loh dibawah panas terik matahari.

    Sumpah nih, saya baru tahu lho ternyata surat biru itu lebih simple. Lain kali kalau kena tilang saya mau minta surat KUA aja deh biar kelar urusannya. males datang sidang kalau sendirian terus.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Emng gk ada yg enak menyangkut tilang menilang dilalu lintas. Yg enak itu ditilang dan menilang hati mantan.... #Uh.

      Minta surat KUA boleh kok. Yg gk boleh itu kalo minta mantan yang telah pergi, untuk kembali mencintai kita lagi. #Uh

      Hapus
    2. hehehe... jangan mantan ah, soalnya dia pergi dengan membawa stnk motor saya T_T

      Hapus
  5. Lupa kapan terakhir ketilang. Udah punya SIM dari 2013 soalnya, sih. Muahaha. *oke songong*

    Anjir kakeknya bisa banget, ya. Tae juga tuh. Dulu juga pernah disuruh sidang gitu, tapi gue gak bisa dateng. Akhirnya ada tetangga yang gantiin apa, yak. Soalnya gue waktu itu kerja. Gue kasih dia 50 ribu waktu itu, sih. Dan sepertinya itu udah lebih dari cukup. XD

    Kalau slip biru itu maksimalnya kena duit berapa deh? Meskipun udah ngaku salah, tapi gak mahal banget, kan?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Saking seringnya ketilang ya Yog, Haha.

      Iya, emng bisa kek gitu Yog. Yg gak bisa itu kalo nyuruh tetangga buat gantiin trus disuruh milih uang 50 ribu atau tirai 1.

      Yg jelas gk sampai 50 ribu deh yog. Tpi nggk tau juga sih. Sya juga masih mrencanakan buat nyoba2 pake yg warna biru.

      Hapus
  6. Orang mah Rey kamu ngaku sbg kembarannya CR7

    Kalo pak polnya gtw suruh baca blog saya
    .
    Selamat y udah jadi sarjana
    Hebat loh bang Rey ini tanpa bikin skripsi udah sidang j
    Udah gitu murah lagi bayar sidangnya
    Kapan wisuda?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Jangan Nik. Itu ria namanya. Orang hebat gk bakalan membongkar rahasianya. Biarkan pak Polisinya sendiri yg tahu klo saya ini debu yg nempel di jidat CR7.

      Lagi2...
      Dengan kesongongan yg terpampang nyata. Nyiur melambai dan angin menyiur. Si Niki tampak gagah dengan ucapan selamatnya. Makasih Nik....MAKASIH!

      Hapus
  7. Dulu pernah ada tugasnya baca teks tentang surat tilang. Tapi sampe sekarang malah nganggepnya surat biru itu yang pelanggaran biasa aja (misalnya: gak pake helm, gak bawa STNK, plat kadaluarsa), sedangkan surat merah pelanggaran berat (misalnya: tekling dua kaki). Hehehe.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kalo pelanggar yang sangat amat berat dikasih SKB (Surat Keterangan Berdosa). Trus gk dikasih kesempatan buat ngeliat aspal lagi. Nah, cantumin tuh Rob buat tugasnya.

      Eh, tapi kan Robby ini udah semester 5 ya?

      Hapus
  8. hahaha, kasihan, ya. Gue sih belum pernah ditilang, pernah cuma sampai sebatas menepi dan menunjukkan surat2 karena nggak nyalain lampu. Belum pernah sampe sidang, padahal sedikit penasaran rasanya sidang ditilang itu gimana :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. "Penasaran".......
      Nantangin pak Polisinya nih.
      Kalo mau nyoba ditilang latihan dulu Jev.
      Kami menyediakan tempat kursus persiapan buat ditilang.

      Hapus
  9. seumur-umur belum pernah ngalamin yang namanya ditilang. entah itu pas diboncengin motor atau pas bawa motor sendiri.
    kalau pas bawa motor sendiri sih kayaknya nga mungkin, soalnya aku bawa motor aja nga bisa.. hehehe

    nah kalau pas diboncengin, biasanya aku mastiin kalau yang boncengin aku kelengkapannya udah ada semua. (berlaku kalau mau jalan jauh) kalau cuma deket ya, paling lewat-lewat jalan tikus.

    aku sendiri takut sama polisi, apa lagi polantas. cuma liat dari jauh doang orang-orang yang ditilang, suka jiper sendiri.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Orang kyak kamu nih Put. Anti tilang. Tapi kalo diboncengin, masih tetep bisa kena tilang sih. Haha.

      Wah, jadi lumayan ribet ya klo mau jalan sama Puti (ini saya mnggilnya puti atau andini nih?) harus lulus berkas dulu. Jadi kayak mau ngelamar kerja. Kasian tuh pasti pacarnya.

      Gk ada yg perlu ditakutik Put. Selama surat2 kendaraan lengkap. Yg perlu ditakutin itu kalo yg boncenging kamu naik motor sambil sikap lilin.

      Hapus
  10. Anjir baru tahu gue ternyata gitu doang gak pake sidang2an ya. Asal langsung bayar aja. *lamar kerja jadi calo* Hahahaha. \:p/

    BalasHapus
  11. Hahah, Rey sekarang kamu suka menulis toh. Nice (y)
    Semoga besok-besok kamu dipanggil sidang lagi, tapi jangan di pengadilan, di kampus, sidang skripsi..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kamu juga kyaknya suka menulis. Apalagi tntang tutorial. Bisalah bikin tutorial cara mndapatkan pacar. Saya lagi butuh ini.

      Haha, Aamiin.

      Hapus
    2. Kalau saya tau tutorialnya, mungkin kasta (baca: status) kita sudah berbeda sekarang..
      Kau bertanya pada orang yang tidak tepat..

      Hapus
    3. Oo, setidaknya bapak ini pernah merasakan dibanding saya.
      Rasa2nya saya sdah bertanya pada orang yg brpengalaman.

      Hapus
  12. kadang kalo sim nya diambil dianya promosi ambil di komdak yaa, bayarnya agak mahal sih, sambil belaga2 nanya ada waktu atau engga untuk sidang haha. karena udah keburu males, jadinya kasih 35rb asli recehan hahahahhaha tapi tetep diterima tuh ama Bapaknya haha

    BalasHapus
    Balasan
    1. Waduh. Kalo dikasih 35 ribu sbenarnya gk boleh sih. Yang boleh dikasih itu cuman 5 ribu. Kalo dia gk mau. Lebih baik ikut sidang.

      Hapus

Singgah ki' :)