Sabtu, 24 Desember 2016

TENTANG HARI ESOK


Seandainya kita terlahir dengan jodoh, karir, dan ajal yang sudah kita tahu sejak kita terlahir pasti saya tidak akan menulis postingan ini.

Akhir-akhir ini saya selalu memikirkan apa yang akan terjadi pada saya di masa yang akan datang. Saya benar-benar tidak tahu besok akan menjadi seperti apa.

Rasanya seperti berjalan dijalanan yang tidak tahu entah dimana dan kemana arahnya. 

Sejak lahir, tumbuh dan berkembang seperti sekarang. Saya sudah tahu mana yang baik dan mana yang buruk. Mana yang pura-pura dan mana yang tulus. Mana yang tidak boleh dan mana yang boleh.

Seiring berjalannya waktu cita-cita saya juga selalu berubah-ubah. Saya tidak bisa menjadi Sung Ha Jung yang sejak kecil mulai fokus menjadi seorang pemain gitar atau menjadi Joey Alexander yang sejak kecil sudah terlatih menjadi seorang pianis

Persamaan mereka adalah, mereka tahu apa yang ingin mereka capai sejak kecil.

Saya sendiri sewaktu kecil, tidak tahu apa-apa.

Tidak tahu kalau persaingan diluar sana diburu oleh orang-orang yang terlatih sejak kecil.
Tidak tahu kalau karir kita diputuskan oleh persaingan angka mana yang paling tinggi.
Tidak tahu kalau menonton Teletubbies ternyata tidak ada gunanya sama sekali.

DImasa-masa itu, saya tidak pernah sekalipun fokus dengan mimpi yang ingin saya capai.
Kecuali memberantas monster yang ingin menghancurkan kota.

Kebingungan melanda. Bahkan besok-besok tidak menutup kemungkinan saya berhenti menulis di blog ini. 

Keraguan melanda. Saya kuliah di jurusan Arsitektur. Belum tentu saya menjadi arsitek. Sama seperti Ariel dan Tulus.

Sampai dititik ini, saya merasa harus merubah dan memfokuskan diri mau jadi apa saya setelah hari ini. Walaupun saya tidak tahu caranya bagaimana, kesempatan dan ketidak siapan berlalu lalang begitu saja.

Saya merasa tidak banyak yang dapat saya jual dengan apa yang saya miliki sekarang ini. 
Saya merasa bukan yang terbaik dalam hal apapun.
Saya merasa -1 diantara 0 sampai 10.

Saya tidak tahu berjalan menuju arah yang mana.
Garis finish itu selalu berpindah-pindah, kadang juga menemui jalan buntu.
Bahkan apa yang kita tekuni sekarang belum tentu membuahkan hasil yang diharapkan.


Hidup seperti air yang mengalir itu menyedihkan. Hanya bergerak menuju dataran yang lebih rendah. Menunggu dan terus menunggu. 
Kotor lalu tergantikan. 

Kita bisa memilih.

Merubah dataran menjadi lumut atau menjadikannya tempat bagi bunga teratai bermekaran.

Seandainya kita terlahir dengan jodoh, karir, dan ajal yang sudah kita tahu sejak kita terlahir....





10 komentar:

  1. Hmmm diantara 0 sampai 10 itu gada -1, bang
    Karena 12345678910 bilangan positif bang
    Kalo -1 itu negatif bang
    Jadi 8 + (-1)= berapa hayo
    .

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ini, saya sudah nggk tau mau komen apa.
      Nike memang selalu benar.
      Jika nike salah, kembali ke pasal pertama.
      Bhwa adidas yang salah

      Hapus
  2. memikirkan masa depan itu, kayak berjalan di atas es di kutub dan gak pake sepatu bahkan kaos kaki, berat emang. Saya juga terkadang memikirkannya, reiy.

    Tapi kenyataanya, masa depan udah di jalanin. dengan atau tanpa di pikirkan.

    eh ini ngomong apa yah, maaf maaf.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sebab hidup setelah kematian jauh lebih mudah daripada hiduo yg kita jalani sekarang ini Dian. Sya percaya itu. Hidup memang cobaan.

      Hapus
  3. banyak yah yang udah kuliah tahunan tapi kerjanya gak ada hubungan sama apa yang dipelajari, ya ada paling nyerempet dikit. Apa kabar dengan gue nanti? ._. hadeeeh..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Jalani hari ini semaksimal mungkin. Kdang juga saya berpikir, terus bertanya2 ketidak jelasan masa depan seperti ini memang gk ada gunanya.

      Hapus
  4. Hmmm....
    rei, itu ada yang salah.

    Di harusnya bukan DI. :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Oh, iya. Mkasih saran nya ben.
      Nanti saya revisi. Itu krna kesambet capslock nya icha'

      Hapus
  5. Ini kok sedih, Rey? Rey lagi galauin masa depan :(

    Rey ngerasa salah jurusan apa gimana? Hmmm. Terkadang aku juga memikirkan yang kamu pikirkan. Dominan mikir aku ini siapa, apa yang udah aku lakukan yang sekiranya berguna buat orang-orang sekitarnya, atau seenggaknya berguna buat diriku sendiri. Memikirkan apa orang-orang yang sedang bersamaku sekarang, akan bersamaku terus sampai nanti. Yha. Gitu.

    Btw, kata-kata di post ini banyak yang bagus. Terutama yang Teletubbies.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Gk tahu kenapa akhir2 ini tiba2 nulis yg sedih2 cha' :(

      Ya, semoga tulisan ini bisa mewakili perasaan orang2 yg berkutat dengan tandan tanya seperti kita. Tulisan yg identik dengan kesepian. Ah, saya bruntung punya blog. Smuanya bisa ditumpahkan tanpa rasa bersalah diblog ini.

      Iya cha', saya juga bingung itu lucu atau sedih gk sih.

      Hapus

Singgah ki' :)