Minggu, 13 Maret 2016

Proud to be a loser!


Halo, apa kabar? mdah2an masih baik ya :D
Bagi kabarnya yang tidak baik, istirahat lah dulu, tidak perlu memaksakan mmbaca tulisan orang yang bukan siapa2 ini :)  

(fikir-fikir dulu mau tulis apa)

Semenjak punya banyak teman blogger, saya merasa tidak sendiri. Rasanya seperti, ada-ada saja yang mau meluangkan waktunya dari kesibukan dunia luar yang serba ribet demi memperhatikan dan saling menyemangati tulisan blogger satu sama lain. Saya sangat salut degan dunia blogger personal ini.

Setiap orang punya alur cerita masing2. Entah mereka yang diciptakan pemalu, pemberani, baik hati, sombong, iri hati, kaya, miskin, tampan, jelek (kayak penulis ini, tapi sedikit ganteng juga sih), yang merasa sempurna ataupun yang ditindas. Semua cerita mempunyai tujuan hingga saling berkolaborasi mmbentuk satu layar film yang disebut kenangan.



Jadi pecundang? siapa takut!. Sumber disini

Diantara karakter diatas, saya bisa digolongkan dikategori seorang "pecundang". Iya, saya seorang pecundang. Krakter fisik yang normal tidak menguatkan hati dan mental saya sebagai seorang jagoan yang selalu dikagumi, di elu-elukan, dicintai banyak perempuan dan punya segalanya.

Sejak kecil saya terbiasa mengalah. Karna teman. Tidak banyak orang yang rela jadi yang paling belakang demi teman2nya. 

Kalo mengingat masa kecil, saya senang ketika main petak umpet, teman2 tertawa bersama mnikmati permainan ini saat yang "jadi" tidak pernah diganti. Saya sangat jarang mnjadi orang yang "sembunyi". Tman2 yang lain terlihat mnikmati jika ada diantara kami yang diejek2 karna tdak prnah mnjadi orang yang "sembunyi" dan itulah saya. Tidak jarang saya menangis krna ditertawakan, berkelahi? setiap minggu saya berkelahi, tidak pndang umur lawannya siapa, tapi mau apalagi? tidak banyak diantara mereka yang mau mengakui kekalahan, biasanya klo bgitu, bnyak yang brtengkar, permainan jadi tidak seru dan tidak asyik. Mkanya saya senang "kalah" demi mnghindari prtengkaran hanya krna sbuah prmainan. (taukah kalian? hidup  juga seperti itu)


Wajah orang ganteng
Wajah2 bocah habis kencingin diri sendiri.

Bgitupun permainan lain. Saya sdah terbiasa ditertawakan apalagi di Bully, bgitu seterusnya sampai saya beranjak dewasa dan berjanji tdak akan pernah berkelahi lagi, trakhir saya berkelahi dan di Bully pas lulus SD.

Soal cinta?

Hahahh, saya tidak bisa berbicara banyak tentang "itu". Saya tidak pernah pacaran smpai sekarng. Bahkan sampai sekarang saya tidak pernah berani mengungkapkan perasaan pada seorang perempuan yang saya cinta sejak kelas 4 SD. Lucu rasanya mengingat dulu stiap hari semasa SD hanya bisa memandangi dia dari jauh, hasilnya pelajaran Matematika saya juga selalu paling belakang, hehee.

Ceritanya waktu itu dia selalu gonta-ganti pacar dan orang yang pacaran sama dia lebih dominan laki2 jagoan atau terkenal, punya mobil dan ganteng, intinya populer lah.
Jika dibandingkan dengan saya, hahahh. "Apalah daya seorang pria pengecut yang berbicara soal cinta jika brucap "Hai?" atau skedar membalas senyum pun hanya diadukan pada secarcik kertas dan sepotong bulan." Saya selalu merasa minder jika membandingkan mantan2nya dngan kepopuleran saya sndiri. Ibarat ikan badut dan ikan hiu.

Mengungkapkan perasaan itu sulit pada orang yg benar2 kita cintai. sama halnya dengan "Mencintai setulus hati hampir sama dengan mempcundangi diri sendiri".


Bagaimana dengan pergaulan?

Jujur, dari dulu smpe skarang saya tidak suka bergaul dngan teman yang gayanya paling "High class", seperti mereka yang naik mobil ksana kemari, nongkrong ditempat2 kekinian yang tidak jelas, orang2 populer, penguasa (yang kerjaan nya ngajak berkelahi), orang egois ataupun orang kurang percaya diri. Kenapa? Alasannya ada banyak. 

Pertama, memamerkan dan menyombongkan benda2 pemberian orang tua bukan gaya saya. Bahkan smpai skarang saya slalu brusaha untuk tidak banyak minta sama orng tua. Keadaan bgitu bisa memaksa saya brfikir kreatif "Bagaimana caranya supaya saya bisa menghsilkan uang sndiri sedini mungkin?" hasilnya pas SD saya bisa mnghsilkan uang lewat gambar anime yang dipesan lalu dijual ke teman2. SMA saya menjual Papercraft atau mainan dari kertas yang hasilnya dibelikan baju laricci Pramuka yang jrang anak pramuka yang punya waktu itu. "Bagi saya, selalu ada kepuasan trsendiri jika berhsil membeli barang yang diimpikan dengan uang sendiri."



Ini nih, yang namanya Papercraft. Hrganya waktu itu djual mulai 20-50 ribu. Lumayan. Hehe. (fotonya masih tersimpan)



Kelas 12 IPA 2 SMANSA Angkatan 2014
Yang saya pake itu namanya baju "laricci" kain nya tbel, Dibelinya dipesan dulu. Harganya 250 ribu kalo ga salah

Kedua, menunjukkan kehebatan dengan cara berkelahi bukan cara saya. Kehebatan tolak ukur nya ada di prestasi. Sehebat apapun kita berkelahi, membuat orang nangis smpe takut dengan kita, sama saja dengan nol. "Kita hidup, bukan untuk ditakuti, tapi untuk mencari eksistensi lewat prestasi". Dengan alasan itu baru masuk SMA saya gencar masuk banyak organisasi mulai dari Pramuka, pencak silat, Paskibraka (tidak lolos), IPM (Ikatan Pelajar Muhammadiyah), dan KPA (Kelompok Pecinta Alam) Kompas celebes. Tujuannya, mencari jati diri, prestasi dan belajar mengelola organisasi. Bgitupun sekarang, didunia kampus. Kemarin baru seminggu lebih menjadi MABA saya sudah masuk HMI (Himpunan Mahasiswa Islam) dan beberapa bulan brikutnya mergabung di UKM Seni (Unit Kegiatan Mahasiswa). Mungkin dipost selanjutnya akan saya ceritakan.

Saya lebih suka bersahabat daripada berteman, karna sekali lagi satu sahbat lebih berarti daripada ribuan teman dan mereka tak beda pecundang nya dngan saya. Tidak populer, tidak tampan rupawan, bukan idola dan beberapa bujangan (jomblo) saya jadi ingat sajak Aan mansyur.

"Aku senang berada di antara orang-orang yang patah hati. Mereka tidak banyak bicara, jujur, dan berbahaya. Mereka tahu apa yang mereka cari. Mereka tahu dari diri mereka ada yang telah dicuri."

Sama seperti yang Aan mansyur katakan. Mereka berbahaya. Apa yang ingin mereka capai selalu dilakukan dengan kerja keras atas dendam pembuktian bahwa pecundang2 seperti mereka juga bisa berada diatas puncak kesuksesan. Tak jarang dari mereka berucap "Gunakan uang sebaik mungkin, kasihan orang tua dikampung".

Sama seperti saya, mereka tidak suka menjilat atau memuji2 guru atau senior supaya mndapat kedudukan. Mereka tidak pandai dengan hal itu. Bergaul dengan yg tua (dibaca: senior, asisten dosen, dosen, dll) saja kami malu2 tak seperti mereka yang populer. Kami lebih banyk diam memperhatikan dan ikut tertawa jika disinggung.


Tapi dalam hal kerja, kami nomor satu. Kata "Talk less, do more" sepertinya lebih cocok pada kami yang tidak banyak bicara dan menjilat, tapi banyak kerja.

Kembali ke saya.

Bagaimana dengan keluarga?

Saya dibesarkan bisa dibilang dengan cara otoriter dengan orang tua saya. Kenapa? karna dari kecil saya tidak sngat jarang diberi kesempatan mengutarakan pendapat, apa yang orng tua bilang, itu yang harus saya lakukan. Mungkin karna pekerjaan mereka hanya punya sedikit waktu untuk saya. Selain anak sulung, smua adik saya juga laki2. Jadi bisa dibayangkan bagaimana kakunya situasi didalm rumah (post selanjutnya akan saya critakan). Smpe skarang saya sbagai anak laki2 skaligus anak sulung msih blum berani mengutarakan pndapat trhadap kdua orang tua saya. Bagaimana? pecundang kan?

Dari kesemua ke-pecundangan, saya berfikir bahwa semua kesenjangan ini, ke-ter-bawahan ini, secara tidak sadar membentuk mental saya, merubah mental dan sikap saya yang dulunya slembek pohon pisang menjadi sekuat phon kelapa.

Intinya jangan pernah sesali setiap bagian atau scene hidup mu, sepahit apapun itu, seburuk apapun itu, dan se-memalukan apapun itu. Percayalah lah siapapun dari kita yang hidup didunia ini berarti untuk orang lain ataupun untuk diri kita sendiri. 


Mengalah juga bukan masalah besar, kebanyakan orang melecehkan kebenaran universal demi mempertahankan ego nya masing2, mereka takut kalah dan menuntut kesempurnanaan trhadap dirinya sendiri. Tapi soerang pcundang brtindak apa adanya, jujur dan berani meredam egonya sendiri demi kebaikan orang banyak.

And then, smpailah saya pada satu titik balik dimana saya merasa menjadi pecundang adalah proses dan saya sadar sedang berada didalm proses itu. Hanya menunggu waktu dan benih keberanian untuk datang kembali dan mencabut buah dari hasil proses tersebut.

Proses dimana pecundang akan jadi pemenang!

From Loser to be a Victory! 


For the last, I'm proud to be a loser!

25 komentar:

  1. I think i'm a loser too just like you! Saya juga cuma bisa mandang dari jauh orang yang disuka, tanpa pernah ngutarain perasaan, dan alhasil cuma bisa mencurahkan isi hati lewat puisi haha~

    Benar sekali, setuju. Jangan pernah sesali masa lalu seburuk apapun itu, malah harusnya kita jadikan hal2 buruk di masa lalu sebagai pembelajaran untuk memperbaiki diri di masa depan :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. klo bhasa psikologinya orang2 kyak kita itu nmanya introvert. Lbih suka mnyendiri, dan tdak brani mngungkapkan. Bsok2 mngkin bisa diungkapkan lah zan, hahah

      Nah, stuju.

      Hapus
    2. Yap introvert atau bisa dibilang penyendiri. Mungkin suatu hari nanti bisa diungkapkan han, suatu hari nanti haha.

      Hapus
  2. Kamu mirip-mirip sama aku ._.

    Aku juga pernah jadi pecundang -_- dan kurang suka bergaul di lingkungan yang highclass ._.
    Hidupku mau aku bikin ngalir dulu aja, nanti yang namanya pecundang bakal jadi pemenang :D seperti yang kamu bilang :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hahahh, snang rasanya bisa berbagi pnglaman dengan orang yang khidupan nya hmpir sama dngan kita.

      Yap, brusaha dan brdoa aja feb, yakin usaha sampai!

      Hapus
  3. biarlah masalalu menjadi pelajaran , semangat

    BalasHapus
  4. Pecundang yg pantang menyerah
    Siapa tw sobat nantiny bisa jadi kayak naruto jadi hokage ke 7

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya juga yaa,..
      gmana syaratnya buat jadi hokage ke 7 nik? persyaratan berkas nya apa2 aja?

      Hapus
  5. Selamat berproses gan, jangan menyerah hidup masih panjang kedepan. Tatap masa depan setiap harinya, jangan lupa bermimpi sampai ke angkasa. Salam blogger

    BalasHapus
  6. salut gan, bisa kuat gitu...

    BalasHapus
  7. mantep gan ceritanyaa :3
    Papercraftnya lucu gan :3 jadi pengen belii,tapii jarang yang dijual disini,bukannya jarang sih malah ngga ada yang jual sama sekaliXD

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hahahh, buat sendiri aja gi', gmpang kok, tnggal dwnload format nya saja trus lipat2 dn lem2 sdah jadi. Btuh kesabaran saja sih klo buat gtuan, karna hrus teliti dan detail.

      Hapus
  8. Waah...ane gak nyangka ente sehebat itu Gan..semoga jadi inspirasi bagi kaum2 yg mudah putus asa :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Smua orang pada dsarnya trlahir mnjadi orang hebat gan. Aamiin.

      Hapus
  9. Keren artikelnya karangan sendiri kah gan ?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Tpatnya pngalaman sendiri gan, huehehe.
      Kita smua pasti punya pnglaman berbeda2 dan gw g mau pnglaman gw itu trkubur jadi knangan buruk.
      Jdi saya brinisiatif mmbagikan nya lwat tulisan ini.
      Smoga dpat mnginspirasi :)

      Hapus
  10. Mantap, Rey. Kamu tetap pemenang di hati saya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. So switttt.... <3 <3

      Jaga hatiku slalu ya bang....

      Hapus
  11. Wuih.
    Bagus rei tulisannya.
    Sekarang saya jadi tau kenapa kamu di bully diem aja. Hahahaa.
    Saya baca ini jadi mau curhat sendiri,, tapi tak apalah. Biar saya pendam sana :")
    Terus berjuang untuk membuktikan bahwa "pecundang" itu memang layak menang rei.
    Salam kenal!
    Komentar pertama saya di blog kamu.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wah, mkasih loh ben.
      Bukan nya diem sih..gk tau aja mau ditanggepin kek gmana...Hahahh
      Lah, curhat lngsung sama bang uda dong... :))

      Selalu ben.....selalu.... :)
      Slam kenal juga!
      Oiya, sipp (y)

      Hapus

Singgah ki' :)