Selasa, 20 Oktober 2015

Sepenggal kisah di Ujung Tanah

Hari ini kembali diwarkop yang sama, kegantengan yang sama dan kejombloan yang sama, kembali menulis dan update di blog ini. Kali ini saya akan merajut kembali pengalaman sewaktu melakukan observasi di suatu kelurahan dalam salah satu tahap di UKM Seni UMI.. Untuk selebihnya silahkan dibaca tragedi dibawah ini. Hehe. Cekidot!

***

Sore itu adalah kesekian kalinya kami berkunjung ketempat tersebut. Nama tempatnya adalah Ujung Tanah, salah satu Kelurahan yang berada di sekitar pesisir pelabuhan Makassar. Disana aku melakukan sebuah proses, melihat dunia luar, dan menyadari sebuah cerita lain yang tak disadari orang-orang hedonis. Untuk melakukan penelitian observasi dalam rangka menjalani salah satu tahap menjadi anggota penuh UKM Seni UMI secara perkelompok atau pertim.



Awalnya aku berfikir kegiatan ini dikemudian hari mungkin akan beresiko, entah orang-orang seperti apa yang akan kami hadapi, mengingat Kelurahan ini berada disamping Jl. Nusantara yang tak asing lagi aku dengar. tetapi hari demi hari berlalu, kami seakan larut dalam suasana kekeluargaan yang diciptakan oleh warga disana, mereka begitu ramah dan welcome terhadap tamu-tamu dari luar. Tujuan kami disini hanya satu, memperbaiki masalah yang ada ditempat tersebut dengan media kesenian, maka dari itu kami selalu membuat suasana yang ceria dan penuh dengan persaudaraan untuk membantu masyarakat disana ataupun meringankan pekerjaan mereka semampu kami.



Aku kemudian berjalan menemui Arma partner sejalan yang telah ditentukan di rapat kemarin dan kami pun berjalan menuju taman milik pabrik tepung yang ada di Kel. Ujung Tanah, lokasi yang dipilih untuk kemudian kami pantau bagaimana keadaannya. Sesampainya disana kami melihat beberapa orang sedang berkumpul dan duduk dibawah pohon sambil melingkar, mereka tertawa satu sama lain. Sepertinya mereka adalah pekerja pabrik.

Kemudian kami berinisiatif untuk mewawancarai mereka, kami pun melangkah mendekati tempat mereka, mereka secara tiba-tiba kaget dengan kedatangan kami. Awalnya saya meminta izin untuk bergabung bersama mereka untuk sekedar mewawancarai terkait pabrik tersebut dengan taman ini, kemudian kami memperkenalkan diri, setelah itu kami dipersilahkan duduk. Aku yang mewawancarai mereka sedangkan Arma yang mendokumentasikan kegiatan tersebut dengan merekamnya. Selama hidup aku tidak pernah melakukan kegiatan jurnalistik wawancara atau semacamnya. Tanganku dingin dan aku agak gugup dalam mewawancarai mereka.


Pertanyaan pertama dengan sangat hat-hati dan jelas aku lontarkan, mereka menatapku dengan aneh kemudian mereka saling bertatapan. Sepertinya mereka agak kebingungan dengan pertanyaan ku. Aku ulangi dengan bahasa yang agak baku, ditambah gerakan visual yang jelas dan keras dari tadi, mereka tetap tidak menjawab. Aku menggaruk kepala mulai kebingungan, entah apalagi yang harus kuperbuat.

 Sejenak kami diam saling menatap. Salah satu dari mereka menjawab kepadaku “Mas, coba tanya saja sama dia” menunjuk pekerja yang tertawa sambil sandar dipohon  “Kami orang jawa mas, tidak mengerti bahasa Makassar” aku dan Arma tertawa mendengar hal tersebut. Aku menghela nafas, akhirnya ada jawaban atas semua ini. “Dari tadi, mereka tidak mengerti apa yang kalian katakan” kata pekerja yang sandar tersebut. Ternyata dari tadi dia hanya menertawakan kami saat bertanya pada sekelompok pekerja yang berasal dari jawa tersebut. Akhirnya kami mewawancarai pekerja yang berasal dari Makassar ini. Kemudian kami catat hal pentingnya untuk dibahas di evaluasi nanti.
Senja hari itu semakin larut, burung-burung mulai beterbangan diatas taman tempat kami berpijak dan pabrik masih tetap berbunyi. Bunyi berdenging mesin untuk menghasilkan tepung. Esok atau lusa, masih banyak penggalan cerita yang akan ditawarkan di Ujung Tanah ini, sayang untuk tidak ditulis, sayang untuk tidak diingat dan sayang untuk dilewatkan.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Singgah ki' :)