Tuesday, July 10, 2018

BERKHIANAT DI KERJA PRAKTEK PERENCANAAN






“Setiap kelompok berisi tiga orang. Terakhir penunjukan SPK (Surat Perintah Kerja) dua minggu, mulai hari ini.”

Begitulah pengantar yang diberikan Ibu Suba sebelum kami mulai mencari tempat Kerja Praktek. Nama lengkap Ibu Suba adalah Ibu Subaidah.

KP atau Kerja Praktek Perencanaan adalah magang yang berfungsi untuk menambah pengalaman kerja mahasiswa arsitek dengan terjun langsung di kantor konsultan perencanaan arsitektur. Mulainya semester 6.

Semua mahasiswa mulai sibuk mencari kelompok yang bermutu demi menyelamatkan dirinya masing-masing. Dalam proses mencari kelompok seperti ini, mahasiswa pintar dan rajin biasanya cepat laku, sedangkan mahasiswa yang terkenal malas dan kurang pintar biasanya harap-harap cemas mencari kelompok secepat mungkin. Dan yang paling parah adalah mahasiswa  goblok yang tidak tahu diri. Biasanya kalo momen rebut-rebutan teman kelompok seperti ini mereka cuman diam dan sok jual mahal, nunggu dipanggilin atau menunggu di kasihani.



Saya dengan sigap, mulai mencari-cari teman yang diperkirakan belum punya kelompok namun cerdas nan rajin, supaya bisa saling melengkapi. Tanpa merendahkan kualitas diri dan tetap jual mahal, mata saya langsung mencari Ulla. Orang yang termasuk pintar dan rajin di angkatan.

“Ehm, bro, kau sudah punya kelompok kah?”
“Iya rey, sudah ada, saya satu kelompok sama Aziz dan Aris”
“Oh, sudah cukup 3 berarti”
“Coba tanya Agus, dia belum punya teman kelompok kayaknya”

Ulla benar-benar tidak tau bagaimana si Agus. Satu kelompok dengan dia sama saja dengan bunuh diri. Dia memang ramah dan bersahabat, kalo sampai di kampus dia selalu menyapa “Selamat pagi” pada teman-teman. Walaupun hari sudah sore.

Ditambah saya yang cepat terpengaruh dengan pergaulan. Kalo kita satu kelompok, mungkin yang datang ke kantor cuman harapan yang menunggu kepastian.

Selesai kuliah saya langsung berjalan menuju jurusan sambil meneriman kenyataan bahwa semua teman sudah punya kelompok. Bahkan si Agus katanya juga sudah punya. 

Tunggu dulu. Kelompok dermawan mana yang mau menerima si Agus?.

Sambil berjalan menuruni tangga, saya bertanya ke group angkatan. Barangkali masih ada teman yang belum dapat kelompok. Tiba-tiba pesan masuk. Dari Tiwi.

Tiwi : Kita satu kelompok saja.
Rey : Satunya siapa lagi?
Tiwi : Satunya Masrurah. Cukup kan bertiga?
Rey : Oiya, kalo begitu saya masuk dikelompokmu.

Satu kelompok dengan Tiwi dan Masrurah bukanlah ide yang buruk. Walaupun cuman saya yang cowok. Tapi setidaknya mereka berdua termasuk teman yang rajin.
Seminggu berlalu, berbekal google maps dan link dari senior, saya sudah hampir mendatangi lima kantor yang ada di list. Diantaranya adalah ;

1.      PT. Terserah Kamu
Saya dapat kontak kantor ini dari salah satu senior. Kantor ini adalah prioritas utama. Karna katanya, bos yang ada diperusahaan ini baik sekali, karna walaupun tidak pernah masuk kantor, bosnya tetap kasih nilai A buat mahasiswa yang magang disana. Sungguh kantor idaman orang seperti Agus.

2.      PT. Konsultan Geografis
Ini salah masuk kantor…

3.      PT. Punya Teman Om
Saya dapat kantor ini dari Om yang kebetulan punya banyak teman konsultan perumahan. Katanya proyeknya banyak. Perumahan. Anggarannya besar-besar semua. Tapi sampai sekarang belum ada kabar. Kayaknya proyeknya perumahan wallet.

4.      PT. Jangan Main-Main
Kantor ini pernah ditempati juga sama senior. Saya dapat alamatnya juga langsung dari senior. Waktu itu saya datang sendiri. Pas habis ketuk-ketuk pintu, tiba-tiba om-om keluar dari garasi mobil sambil menelpon.

“Iya, kenapa?”
“Saya mau tanya om, di sini PT. Jangan Main-Main ya?”
Tangan om itu langsung menggeleng-geleng. Memberi isyarat ‘bukan’.
“Oiya, makasih om”

Tangan om itu masih menggeleng-menggeleng. Saya baru mengerti waktu dia menunjuk handphone di telinga kanannya dan bilang :

“Sorry, bukan kamu. Ini lagi nelpon”



Masih sambil menelpon, si om langsung menyuruh saya masuk lewat garasi kantor itu. 

Melewati koridor, saya sampai di kantor tempat kerjanya. Di ruangan kantor itu, semua orang pada sibuk, ada yang mendesain lewat komputer, sketsa gambar, menghitung RAB dan ada yang diskusi gambar. Sedangkan saya memperhatikan semuanya dari luar kantor sambil gemetaran. Ini saya belum memperkenalkan diri dan menjelaskan niat datang kesini, tiba-tiba langsung di suruh masuk.

“Kamu duduk di sini dulu, nanti saya panggilkan Pak Taufik”

Bermodalkan tekad dan rasa tidak punya malu yang tinggi, beberapa menit kemudian saya langsung disuruh bicara sama pemilik biro konsultan tersebut.

“Jadi, kamu anak yang mau magang di sini?” Saya heran, tiba-tiba Pak Taufik langsung tau maksud kedatangn saya ke sini, walaupun belum pernah saya kasih tau.

Belakangan, saya baru tau, ternyata anak magang yang di maksud Pak Taufik itu adalah Kak Adi dan Kak Johan, dua senior yang kebetulan mau magang di sana juga. Mereka yang lebih dulu menghubungi Pak Taufik secara langsung buat datang ke sana, minta izin. Tapi secara kebetulan yang datang secara membabi buta malah saya.

FYI, mata kuliah Kerja Praktek Perencanaan ini membatasi mahasiswanya magang minimal satu kelompok di satu biro konsultan. Lebih dari satu kelompok di satu biro konsultan tidak di perbolehkan. Bisa di simpulkan salah satu kelompok kami, yaitu kelompok saya dan kelompok Kak Johan harus mengalah salah satunya untuk bisa magang di tempat Pak Taufik. Pilihan ke duanya jika tidak ada yang mau mengalah adalah perang skill siapa yang lebih layak. Setelah dilihat-lihat ke dua teman kelompok saya (Tiwi dan Masrurah) ternyata tidak terlalu memiliki skill mumpuni, begitupun saya. Maka saya memilih opsi ketiga ; Bikin perusahaan sendiri.

Akhirnya kami memutuskan untuk tetap bertahan di tempat Pak Taufik, menunggu kelompok Kak Johan mengalah. Seminggu setelahnya saya mencium bau-bau keguguran dari kelompok kami. Masrurah di duga tidak memenuhi syarat untuk mengikuti Kerja Praktek Perencanaan ini, beberapa nilainya di vonis masih ada yang bermasalah. Sekarang tinggal ada saya dan Tiwi. Melihat kemampuan kami yang tidak seberapa dan dibayang-bayangi oleh pertanyaan Pak Taufik waktu itu

“Kamu bisa pake Sketchup sama AutoCad kan?
Dan dengan sombongnya saya berkata “Iya, bisa pak”
“Hitung anggaran bangunan bisa?”
Dengan sombongnya lagi saya berkata “Bisa, bisa pak. Di kampus sering belajar itu, hehe”
Kenyataannya nilai mata kuliah Manajemen Proyek ku waktu itu dapat nilai E.

Maka dengan itu, demi kemaslahatan kelompok. Saya sebagai ketua kelompok memutuskan dengan berat hati untuk membubarkan kelompok ini secara sepihak. Kemudian berkhianat ke kelompok Kak Johan. Ehehe.

Iya, saya masuk ke kelompok Kak Johan yang kurang satu orang. Disitu saya merasa egois karna mememilih keputusan sepihak tanpa meminta persetujuan Tiwi. Terkadang kita memang harus memilih keputusan yang pahit karna cuman itu keputusan yang paling logis. Saya selalu berusaha berpikir logis dalam setiap mengambil keputusan. Seperti keadaan yang mengancam karir mahasiswa saya ini.

Hari-hari selama di kantor saya mengenal beberapa orang baru. Selain Pak Taufik, saya juga mengenal Kak Yudi dan Kak Fathur. Mereka berdua yang membimbing kami selama di sana. Selain itu ada juga Mba Yuni yang tidak lain adalah istri Pak Taufik, katanya asli orang Jogja. Ada juga Opa, saya tidak tau nama aslinya, yang jelas selama saya di sana, orang-orang hanya memanggilnya Opa. Umurnya sekitar 60-70-an. Selama di sana saya paling suka mendengar cerita-cerita Opa sewaktu masih muda. Dia dapat beasiswa S2 di Jerman, pernah bekerja di perusahaan Oil and Gas. Saya banyak dapat inspirasi dari Opa. Di umur yang begitu tua, dia masih tetap bekerja dan tidak mau menyusahkan orang lain, terutama anak dan cucunya.

Dan yang paling saya ingat adalah si Ade, anaknya Pak Taufik. Kalo tidak salah dia anak pertama dari dua bersaudara. Si Ade ini masih SMP. Badannya gendut. Saya perkirakan beratnya 60-70 Kg. Rambutnya keriting tidak terlalu panjang. Di minggu-minggu pertama saya masuk kantor, si Ade ini tanpa sungkan langsung menjabat tangan kami satu persatu dan bilang :

“Perkenalkan, saya Ade. Saya manajer di sini” dengan mulut berminyak sambil mengunyah pisang goreng.

Waktu itu saya langsung percaya dan langsung tunduk dan hormat sama Pak Ade ini sebelum satu hari di kantor saya menemui dirinya berseragam pake dasi dan celana panjang biru tua sambil main game dengan telinga tertutupi headset. Ternyata masih SMP!

Tahu si Ade ternyata masih SMP, saya tidak bisa langsung menaboknya begitu saja. Beliau masih saya hormati karna si Ade ini tetap anaknnya Pak Taufik. Bos kita semua. Hingga di minggu terakhir magang, saya di permalukan olehnya.

Sore itu beberapa hari sebelumnya saya tidak masuk kantor karna ada beberapa kesibukan di kampus. Setelah menghilang beberapa hari di kantor, saya mulai merasa canggung untuk datang ke sana lagi. Apalagi Kak Johan bilang saya di cari sama Pak Taufik beberapa hari terakhir. Hari itu saya memberanikan diri untuk datang ke kantor. Awalnya orang-orang kantor biasa-biasa saja dan tidak ada yang bertanya “Kemarin kamu kemana?” atau “Kok baru muncul?” bahkan Pak Taufik juga tidak bertanya apa-apa.

Hingga sore hari, dua jam sebelum pulang saya duduk di depan komputer sambil mengerjakan gambar yang ditugaskan. Tiba-tiba si Ade datang
“Wah, wah, wah. Ini nih” tangan panjang dan berlemaknya langsung nunjuk ke saya.

Saya berusaha dan pura-pura sibuk melihat computer.
“He! He! Pura-pura tidak liat lagi. Siapa lagi namanya ini?”

Sadar, daripada dia tambah ribut dan jadi perhatian orang satu ruangan saya langsung nengok ke dia

“Iya?”
“Kamu, kenapa baru datang? Kemarin-kemarin menghilang tidak ada kabar”
“Hahaha” Berusaha menahan malu.
“Ini, kemarin sibuk asistensi tugas di kampus, hehe”
“AH! Banyak alasan juga, sekalian saja besok-besok tidak usah datang (berhenti).” 
“Hehehe” waktu itu tidak tau mau ngomong apa lagi selain ngetawain diri sendiri, orang-orang satu ruangan langsung melirik ke saya. Saya malu setengah mati. Harga diri saya langsung rontok saat itu juga. Pulpen jatuh dibawah meja, saya pura-pura tunduk berlama-lama buat mengambilnya sambil menghilangkan efek ‘malu’ yang mendera. Kalo bisa sih nunduk aja terus, gak usah bangun-bangun.

Walaupun punya manajer yang ceplas ceplos seperti si Ade. Pada akhirnya kantor ini tetaplah kantor pertama dan terbaik yang pernah saya tempati. Dari semua kelompok mahasiswa yang Kerja Praktek, cuman kantor ini yang memberikan ‘uang saku’ perminggu buat mahasiswa magangnya.

KP Perencanaan, Reyhan Ismail, Magang, Arsitektur, Proyek
Salah satu mandor yang paling keren sedang berfoto di lokasi proyek.
Saya sangat berterima kasih kepada Pak Taufik karna sudah menghargai hasil kerja kami di sana. Tidak sekedar memanfaatkan tenaga anak magang untuk menyelesaikan semua pekerjaannya tanpa memberi pelajaran sesuai latar belakang pendidikannya (disuruh bikin kopi misalnya). Tidak banyak orang-orang seperti Pak Taufik ini diluar sana yang mau menghargai dan memahami arti sebuah desain. Kebanyakan orang-orang masih memandang sebelah mata dan menganggap desain itu adalah pekerjaan yang mudah.

Mereka hanya belum paham bagaimana rasanya mengkhianati teman kelompok sendiri dan dipermalukan anak SMP. T_T

-----

Sumber GIF : https://giphy.com/

Tuesday, April 3, 2018

KULIAH DI ARSITEKTUR TIDAK SEMINIMALIS YANG KAU PIKIR



Kuliah jurusan arsitektur, Reyhan Ismail, Rumah minimalis, Desain rumah minimalis, sarjana arsitektur, wisuda, skripsi


Ditulisan ini saya sama sekali tidak bermaksud menjelek-jelekkan jurusan dan fakultas lain. Ini hanya dari hasil pengamatan saya selama dua menit, dalam membanding-bandingkan jurusan arsitektur dengan jurusan dan fakultas lain. Sungguh, tidak ada maksud untuk mengatakan bahwa jurusan lain lebih mudah menjalani kuliahnya daripada jurusan kami. Saya menulis ini hanya untuk menghindari orang awam yang menyamakan semua jurusan dimuka bumi dengan bertanya “Si Mukidi (anak ekonomi) sudah selesai – 4 tahun – kamu kok belum?”, “Si Ciwang (anak hukum) sudah selesai – 3,5 tahun – kamu kapan?”, “Si Doel (anak betawi asli) sudah selesai, kamu jangan malas-malas kuliahnya dong”

Friday, March 16, 2018

YAKIN KAMU TIDAK JATUH CINTA PADA ORANG YANG SALAH ?



Oke, tulisan ini akhirnya dibuat setelah beberapa kali terusik oleh kamu, perempuan yang terjebak dalam pria yang salah dan untuk kamu pria yang takut kehilangan jawaban ketika ditanya "Si anu, mana?".


Sebenarnya saya sudah terusik dengan hal ini beberapa tahun terakhir. Semenjak saya tinggal serumah dengan teman laki-laki yang menurut pandangan saya, sama sekali tidak menghargai perempuan. Tulisannya saya tulis disini.

Dua minggu terakhir, sesuatu seperti ini (tanpa saya minta) datang dan kembali mengusik saya. Saya sebagai orang yang tidak pernah merasa ‘memiliki sesorang’ sepertinya layak untuk mempertanyakan hal ini kepada kamu yang pernah merasakannya. Saya tahu cinta itu buta, saya tahu jatuh cinta itu ‘tai kucing bisa rasa coklat’ tapi ya, tidak begini juga.

Saturday, March 10, 2018

IBU MAAF, SAYA TIDAK BISA WISUDA TAHUN INI



Reyhan Ismail, Kolokium, Universitas Muslim Indonesia, Arsitektur


Hari itu saya sangat ingat, hari Rabu 4 Oktober 2017. Hari dimana-Kita sebut saja namanya- Pak Bambang menerima judul “calon” tugas akhir saya dengan perasaan yang penuh dengan apresiasi.

Tuesday, February 6, 2018

BELUM ADA JUDUL


Reyhan Ismail
Sumber : Disini

Diluar hujan. Gerimis.

Saya duduk didalam kamar, makan biskuit sambil minum susu. 
.
Awalnya saya berpikir 'Apa yang dilakukan orang pas lagi makan biskuit sambil minum susu?' dan tiba-tiba gak tau kenapa saya kepikiran buat menulis.

Walaupun saya belum tau mau menulis apa, yang pasti diluar masih gerimis, biksuit dan susu saya juga belum habis. Bentar saya minum seteguk dulu.

Saya mengetik sambil mengunyah biskuit. Kress, kress, kress. Bunyinya saat dikunyah begitu. Sedangkan kalau minum susu, bunyinya Sruupp...., glekk....

Sampai sini saya mulai berpikir 'Enaknya menulis tentang apa ya?'

Bagaimana kalo review biskuit sama susu yang saya telan?

Ide bagus. 

Jadi biskuit yang saya makan namanya biskuit Nissin Crispy Crackers. Dibeli sendiri dengan uang orangtua dua hari yang lalu di alfmart. Sedangkan susu yang saya minum sekarang adalah, eh, bukan susu sih, lebih tepatnya Milo coklat panas yang ditaburi dua sendok gula dan setengah air panas diracik dengan tangan sendiri.

Bentar, saya ambil biskuit dulu.

Kayaknya itu saja. Oiya, disamping kiri saya ada buku Manifesto Komunis-nya Karl Marx yang tertumpuk dibawah buku Mein Kampf-nya Adolf Hitler. Sebelah kanan saya ada buku Zikir dan bacaan shalat yang bersampingan dengan buku Kitab lengkap EYD.

Kayak-nya cukup itu saja. Milo saya juga sudah mulai dingin dluar masih gerimis sedangkan biskuit masih banyak.

Dan terakhir, yang disamping kiri saya tadi adalah kebohongan besar, hehe :)